You see,
Life is so unpredictable. You may feel doubt, but that is normal.
I am observing you, a fragile kid living as a bore. Watching a life of twenty something years old human whose too young to fear and
hesitate. I am also
waiting you not to think much and do whatever you want to do.
You will be forever walking in a steep hill, never know when to fall or stay firm.
An encounter is also indefinite. Every meeting comes with parting, and that is normal.
You are wondering. How come, in an infinite time and space, moment and occasion, you found it. For what reason that you have to meet if you are forced to say goodbye again.
Contemplate, you said. You always want to heal fast and fly, but you never have a faith to do that.
Just fly. Embrace yourself. Go wherever you want to be. That is how you will make mistake, without a regret.
Yeah, just fly and be brave.
Saturday, 21 April 2018
Sunday, 26 March 2017
[Collection] Here, Standing Still
Aku terkejut saat melihat Sam berada di depan
pintu rumahku. Dia tersenyum, dan tangannya tampak menyembunyikan sesuatu. Apakah
itu untukku ?
“ Selamat ulang tahun !” dia mengeluarkan
sesuatu dari balik punggungnya.
Astaga ! “ Saaaaaaam !!!!!” teriakku saat dia
sudah pergi dengan tawa kencangnya. Dia baru saja mengotori halaman depan
rumahku dengan sampah plastik. Sialan ! Dia mengerjaiku. Aku tidak
berulang-tahun hari ini. Dia jelas-jelas sedang iseng.
“ Suzie, bagaimana kado ulang-tahun dariku ?
Mengejutkan, bukan ?” dia baru kembali setelah beberapa detik, ketika aku
terpaksa memungut sampah-sampah tersebut.
“ Sialan kau ! Kau menambah pekerjaanku di
pagi buta begini !” aku memeriksa jam dinding di dalam rumah dan sadar bahwa
sekarang masih jam 6. Di Minggu pagi begini dia sudah mengerjai orang,
benar-benar kurang kerjaan anak ini.
Dia hanya tertawa, namun ikut memungut hasil
keisengannya. Setidaknya dia memiliki tanggung jawab, itu cukup bagus.
*****
Friday, 24 February 2017
Sincerest Apology in 2017; But Please be Glad That I'm not Posting Shameful Photos
Dear You,

I am really sorry for being so busy these days.
I am really sorry for not traveling
with you these week. I am really sorry for... everything that happened.
I am really sorry for not traveling
with you these week. I am really sorry for... everything that happened.
Honestly, This week has been such a hell
for me too. I shall not tell all I've done (bcs it would be heard as excuses only
), but I assure you that I am in a very tight schedule
.
for me too. I shall not tell all I've done (bcs it would be heard as excuses only
), but I assure you that I am in a very tight schedule
.
That situation leads to my "unprepared-me"
for today. I can only say,
for today. I can only say,
Happy Birthday to you, my CCTV person
.
.
I am wishing
you to never change, my life bolster.
you to never change, my life bolster.
I am wishing
you to grab everything your ambition is yearning, my life bodyguard.
you to grab everything your ambition is yearning, my life bodyguard.
We may not be always together like we used to, but I pray that our hearts still be.

I am wishing
we will always be like we knew each other since high school
,
we will always be like we knew each other since high school
,
no, in better version for sure.

One more wish,

Let's be happy together, in our own path, but make sure we walk side by side, okay?

Welcome for becoming 22.
From me, sincerely.
S

Wednesday, 2 November 2016
[One Shot] Something That is More Beautiful Than Flowers
Aku melihat dia, yang menatap orang itu. Aku mengenggam tangannya, yang terus merangkul orang itu.
Meski aku berdiri selamanya, matanya tak melirikku sebagai yang terpenting. Aku hanya bisa diam dan memandangi langit yang biru dan deruman kendaraan di hari yang sangat sibuk. Cuaca yang indah untuk bunuh diri, bukan?
Saat pintu terbuka, aku melihat seseorang keluar tanpa perlu sungkan menyapaku dan langsung pergi. Bahkan berbagi lirik yang tidak henti kulakukan saja tidak.
Aku masuk ke dalam ruangan yang terlalu familiar. Bau rumput basah dan seprai linen baru, tumpukan bantal yang berantakan dan juga aroma tubuhnya yang sangat unik. Aku tidak tahu sudah berapa lama menikmati hal kecil seperti ini.
Melihatnya membuatku ingin memeluk dan menghirup aroma tubuhnya tanpa henti.
Namun karena aku tahu hal tersebut akan sangat canggung, aku memilih berbaring dengan ceroboh diatas kasur. ini aneh sekali, seperti memiliki fetish tidak lazim. Setiap hari aku mendapati diri semakin gila dengan dirinya.
Aku tidak tahu harus memulai pembicaraan dengan apa. Amarahku sudah menghilang seiring dengan aura maskulin yang ikut keluar dengan kepergian orang itu.
"What were you talking about?" tanyaku karena tidak tahan.
Dia menatapku dalam-dalam sedangkan aku memilih berbaring dan menatap langit-langit kamar. Menatapnya yang sudah hampir ingin menangis membuatku tidak mampu menguasai diri. Aku ingin memeluknya dan mengutarakan perasaanku. Tetapi tidak mungkin.
"He will marry her but asking me to stay with him also,"
Aku tidak mengerti dosa apa yang dia telah perbuat sampai membuat hidupnya kacau seperti ini. Tetapi siapa aku yang bisa menilai kehidupan seseorang? Kalau saja tidak melibatkan perasaan, aku tidak mungkin mau mengurusinya.
"You will be blamed and accused as a home-wrecker, a kept woman, think about it clearly," aku menutup mata dan mencoba untuk tetap tenang. Semua tentang hidupnya memang menyedihkan.
Matanya seperti mata kucing yang begitu ingin kuelus. Kalau aku terus membuka mata dan bertatap mata dengannya, seluruh bayangan nakal selalu terbesit tiba-tiba. Aku memilih untuk berbaring, mungkin aku sedikit kurang tidur.
"And that's not a good impression, you will live a hard life,"
Memangnya aku sendiri menjalani hidup yang bagaimana?
Memang apa bedanya aku dan dia?
Dan di kala itu, ketika dia akhirnya memanggil namaku, "You know what, Maya?" dengan nada serak dan mengundang seluruh pikiran kotor di dalamku.
Aku mencoba memejamkan mata namun panggilannya membuat energiku terisi penuh. Aku begitu ingin memeluknya dan melakukan semua hal yang seharusnya kulakukan sejak dulu. Aku begitu ingin mengutarakan perasaanku ini, tanpa memikirkan hal lain dan segala norma yang ada. Tanpa perlu menilai dan menyalahkan orang lain, seperti yang dia lakukan kepada dirinya sendiri.
"I can't thank you enough to have you in my life," kalimatnya kemudian membuat sebuah peringatan di dalam diriku.
Mengapa dia tiba-tiba berterima kasih kepadaku? Apakah dia ingin mengakhiri sesuatu? Apa itu nyawanya, kehidupan percintaannya, etika, apa yang dia maksud dengan ucapan itu?
Aku terbangun dan tidak mungkin tidak menatapnya. Aku begitu ingin memahami maksudnya.
"Why are you saying that?" aku tidak lagi ingin membawa pembicaraan ini menjadi lebih berat. Senyuman dan tawa kecil palsu yang terlintas begitu menjelaskan betapa kacaunya pikiranku sekarang.
Ah... Tetapi kau tahu apa yang membuatku begitu menyukainya, melebihi seorang sahabat yang perhatian?
She reminds me of myself.
"What were you talking about?" tanyaku karena tidak tahan.
Dia menatapku dalam-dalam sedangkan aku memilih berbaring dan menatap langit-langit kamar. Menatapnya yang sudah hampir ingin menangis membuatku tidak mampu menguasai diri. Aku ingin memeluknya dan mengutarakan perasaanku. Tetapi tidak mungkin.
"He will marry her but asking me to stay with him also,"
Aku tidak mengerti dosa apa yang dia telah perbuat sampai membuat hidupnya kacau seperti ini. Tetapi siapa aku yang bisa menilai kehidupan seseorang? Kalau saja tidak melibatkan perasaan, aku tidak mungkin mau mengurusinya.
"You will be blamed and accused as a home-wrecker, a kept woman, think about it clearly," aku menutup mata dan mencoba untuk tetap tenang. Semua tentang hidupnya memang menyedihkan.
Matanya seperti mata kucing yang begitu ingin kuelus. Kalau aku terus membuka mata dan bertatap mata dengannya, seluruh bayangan nakal selalu terbesit tiba-tiba. Aku memilih untuk berbaring, mungkin aku sedikit kurang tidur.
"And that's not a good impression, you will live a hard life,"
Memangnya aku sendiri menjalani hidup yang bagaimana?
Memang apa bedanya aku dan dia?
Dan di kala itu, ketika dia akhirnya memanggil namaku, "You know what, Maya?" dengan nada serak dan mengundang seluruh pikiran kotor di dalamku.
Aku mencoba memejamkan mata namun panggilannya membuat energiku terisi penuh. Aku begitu ingin memeluknya dan melakukan semua hal yang seharusnya kulakukan sejak dulu. Aku begitu ingin mengutarakan perasaanku ini, tanpa memikirkan hal lain dan segala norma yang ada. Tanpa perlu menilai dan menyalahkan orang lain, seperti yang dia lakukan kepada dirinya sendiri.
"I can't thank you enough to have you in my life," kalimatnya kemudian membuat sebuah peringatan di dalam diriku.
Mengapa dia tiba-tiba berterima kasih kepadaku? Apakah dia ingin mengakhiri sesuatu? Apa itu nyawanya, kehidupan percintaannya, etika, apa yang dia maksud dengan ucapan itu?
Aku terbangun dan tidak mungkin tidak menatapnya. Aku begitu ingin memahami maksudnya.
"Why are you saying that?" aku tidak lagi ingin membawa pembicaraan ini menjadi lebih berat. Senyuman dan tawa kecil palsu yang terlintas begitu menjelaskan betapa kacaunya pikiranku sekarang.
Ah... Tetapi kau tahu apa yang membuatku begitu menyukainya, melebihi seorang sahabat yang perhatian?
She reminds me of myself.
Monday, 31 October 2016
[One Shot] Ignorance
Pria itu menatapku setelah aku berdiri di depan pintu. Aku melepas seluruh beban di pundak dan menghampirinya. Matanya mengamati seluruh penampilanku. Aku tidak pernah tampil terlalu buruk. Dia saja yang tidak mau mengakuinya.
Tangannya menyentuh pinggangku, melingkari dan memegang erat. Kepalanya bersandar ke bahu beserta seluruh pikirannya.
This is love, this is love. Seperti mantra, aku terus berbicara dalam hati. Aku selalu menerima di setiap masa sunyinya. Dia mendatangiku di kala sepinya. Dan pelukanku seperti obat penenang baginya.
Tetapi setiap kali dia datang dan memelukku, dia hanya ingin membuangku untuk kesekian kalinya.
"What is it again?" aku duduk di sampingnya setelah membawanya masuk ke dalam.
Dia tidak dalam keadaan ingin berbicara. Ini akan menjadi malam yang bisu. Hanya aku, dia, dan decit sofa yang bergerak pelan.
Aku berharap hari esok yang indah.
Dia tidak mau melepasku meski hanya untuk mengubah posisi. Karena pria ini, hidupku tidak pernah bisa bahagia seperti wanita normal. Karenanya pula aku tidak bisa hidup dengan tenang. Dia selalu datang tanpa berita dan pergi tanpa pamit.
Tetapi keberadaannya yang tiba-tiba semakin tidak bisa ditolak.
"You are pathetic,"
Maya melempar sebuah majalah ke arahku. Dia datang keesokan harinya dan melihat ada bantal dan selimut yang berantakan diatas sofa.
"Just shut him off! He is not even interested in you!"
Maya berkali-kali menceramahi betapa tidak berharganya apa yang kulakukan ini. Jatuh cinta kepada pria tanpa masa depan dan tak tahu arah, yang hanya memanfaatkan perasaanku demi keuntungannya sendiri.
My name is Charles, an aspiring song-writer, 23 years old, currently living in Brecker.
Aku masih mengingat betapa bodohnya hatiku untuk memilih menyukai seorang kandidat pemeran pembantu dalam sebuah teater musikal. Sebagai salah satu juri, aku bisa melihat bakatnya yang terpendam namun masih sangat mentah dalam berperan.
Dia gagal namun terus mengikuti audisi kesekian kalinya. Setiap kali datang, dia terus berkembang tetapi masih belum mencapai ekspektasi.
Aku masih ingat kepolosanku yang menawarkannya sebagai staf bagian audio setelah dia keluar dari ruang audisi. Sejak saat itu aku menjadi jembatan menuju karir pemain musikal yang bukan menjadi cita-citanya sejak awal.
Kini pria itu telah menjadi sutradara sekaligus scriptwriter yang mulai dikenal. Ketergantungannya dengan alkohol untuk mendapat inspirasi menjadi penyebab gaya hidup yang urakan. Dia minum tanpa tahu waktu dan kondisi. Ketika inspirasinya tidak datang hanya dengan puluhan botol alkohol, aku menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi kecemasan.
Aku percaya kalau kami saling mencintai, tetapi kata itu tidak pernah terucapkan dari mulutnya. Setiap dia pergi, aku selalu meragukan perasaannya. Tetapi setiap kali dia datang kembali, aku memilih percaya kepada perasaanku sendiri saja.
Monday, 24 October 2016
Recently Watched: SANAM TERI KASAM
Hello, it's been a while to review something here. Last week, I decided to watch a Bollywood movie again after a while. It's kinda hard to me to choose the one because actually I'm not really a fan of every hindi movies. It must be acording to the cast, plot, and the color palettes. Please note that I am using "and" which means those 3 must be inclusive.
First, the cast. Oh yes, my movie list must include a good-looking heroine. C'mon, I am going to watch more than 2 hours movie so if there is no a worthy actor to be enjoyed, then it's a no-no. Second, the plot. I am certainly a picky movie-eater that enjoyed trashy plot, tear-jerker, outrageously silly and only watch a serious-noir movie in mood. Shortly, I like mainstream-typical hindi movies. And last is the color palette. It means the color of the film in overall. I like to see a grand setting with pretty color which spent a big amount of budget. We're talking about India, a city that is known dirtier than my country (according to many sources, please don't bash me) so looking the real Indian life would be a pain for my eyes. This is shown how subjective I am as a person, yes?
So I am searching for a worthy one that is fit to my liking. After many searches, I decided to watch this movie:
The movie title is "Sanam Teri Kasam", played by 2 main casts, Harsh Rane and Mawra Hocane. Those two may haven't been renowned stars, considering their names were not even put in the movie poster. And for me, their faces were also not familiar. The only thing that make me wanted to watch is only because of the reviews. It has a positive reviews from the public, and otherwise from the critics. It means, the story maybe such a typical love story that won't satisfy the critics. And finally, I decided to spend almost 2 and half hours watching this movie.
Oh, yes the plot. This is a very typical love story like anything else, to be honest. You know, a man and a woman, a meeting, love happened, and then ended with a happy one, or a tragic one. Seeing the poster only, you will think this has a tragic ending, right? There is no surprise with the plot, seriously. But somehow I was interested and very ready to shed tears. But yeah, I'll tell you the synopsis. STK is about the meeting of a man who wanted to love no one (which is lack of explanation in the story), named Inder, an ex-prisoner-murderer with a woman whom no one loved named Saraswati or Saru. Saru has always been rejected by several man and also had a very stiff father who only wanted an IIT, IIM, bla bla, which I don't really understand but shortly, a successful bachelor from respected background. One day, she asked Inder for helping her and ended up he helped her for almost everything. If I tell more, then maybe it will be a spoiler.
I am very satisfied for the setting choice. There were such a beautiful library (because Saru is a librarian), a very pretty interior design of a cheap place, even the traditional market is very colorful. Talking about the color palette, I started to remember Bajirao Mastani that also has a very good color palette (as a Sanjay Leela Bhansali's work obviously) and maybe I will review that later.
Oh yes, I realized that there is really no fun if we talked about something without photos, so now let's see the color palette, shall we?
Tuesday, 18 October 2016
[Monologue] First
Hello, it's me.
I am writing this after I found a very old picture of you.
It reminds me about several thoughts.
And I don't know whether I like it or not.
You seem like an old treasure buried inside of me.
But it's not that deep. You are always there, whenever I want to reminisce.
You know, I am furious when you are holding someone's hand.
But still, I tell to myself that you are nobody to me.
We are still strangers, with history.
We had a bunch of pages in a book that is owned by me.
Only me. Because this is an unrequited, untold.
I hid those memories, those histories, and those feelings alone.
I miss a moment to tell you, how much I worship you in every prayer.
You are like a Demi-God, a myth that is seemed real but so far.
And I prayed to God, wishing you to come near.
Until the end of my prayer, when I feel tired to ask God, I started to see a reality.
You are only a picture in my mind.
An unlikely perfect portrait of human hanged at the door to my heart.
And the last wish I had to you is a happiness. For you and only. Even when I forgot to ask for myself.
Good night, you.
I wish us to become the closest I can ever think of.
I wish we run into each other but never meet the eye. I wish you walk in the same path as I do even in a different time. I wish myself to not let my heart fall again whenever I see your figure.
-end-
I am writing this after I found a very old picture of you.
It reminds me about several thoughts.
And I don't know whether I like it or not.
You seem like an old treasure buried inside of me.
But it's not that deep. You are always there, whenever I want to reminisce.
You know, I am furious when you are holding someone's hand.
But still, I tell to myself that you are nobody to me.
We are still strangers, with history.
We had a bunch of pages in a book that is owned by me.
Only me. Because this is an unrequited, untold.
I hid those memories, those histories, and those feelings alone.
I miss a moment to tell you, how much I worship you in every prayer.
You are like a Demi-God, a myth that is seemed real but so far.
And I prayed to God, wishing you to come near.
Until the end of my prayer, when I feel tired to ask God, I started to see a reality.
You are only a picture in my mind.
An unlikely perfect portrait of human hanged at the door to my heart.
And the last wish I had to you is a happiness. For you and only. Even when I forgot to ask for myself.
Good night, you.
I wish us to become the closest I can ever think of.
I wish we run into each other but never meet the eye. I wish you walk in the same path as I do even in a different time. I wish myself to not let my heart fall again whenever I see your figure.
-end-
Subscribe to:
Posts (Atom)