Showing posts with label [Cont] - New Season. Show all posts
Showing posts with label [Cont] - New Season. Show all posts

Tuesday, 30 August 2016

[Continuous] New Season (Part 7)

"What's up, hon?" Jared mengangkat teleponku meski sudah hampir pukul 2 dini hari. Dari suaranya, aku sangat yakin dia sudah tertidur.

"Kau sudah tidur? Aku mengganggumu ya?"

"Nope, I'm awake now, talk to me," suaranya yang terus menguap membuatku merasa bersalah.

"I can't sleep, Jared,"

"What's going on? Should I come to you?"

Aku tidak tahu harus menjelaskan apa kepada Jared. Pikiranku cukup kacau. Pertanyaan Daniel membuatku tidak dapat beristirahat. Saat aku memintanya untuk menemaniku malam ini, Jared langsung menutup telepon dan berjanji akan datang secepat mungkin.

Jared mengetuk pintu dan aku melihatnya masih memakai piyama. Dia langsung memelukku dan bertanya ada apa denganku. Aku hanya terdiam. Pria ini benar-benar datang dan aku masih tidak percaya.

"It's good tomorrow is weekend," ucap Jared. Dia membawaku ke dalam kamar dan menyuruhku berbaring.

"Talk to me. You seem worried,"

Aku menggeleng. Instead, aku memintanya untuk memelukku. Something's up but I can't talk to him. Jared tidak berbicara lagi, mungkin dia juga sangat mengantuk sampai akhirnya beberapa menit kemudian dia tidak bergerak sama sekali.

Aku masih mencoba menutup mata dan melupakan semua masalah. Sampai aku merasa sangat lelah, aku terlelap di pelukan Jared tanpa bermimpi.

*****

Monday, 28 September 2015

[Continuous] New Season (Part 6)

Akhirnya aku mengetahui apa yang salah.  Bahkan rasanya aku ingin tertawa saat menyadari betapa bodohnya yang kulakukan.

"What are you laughing at?" Tanyanya.

Rupanya aku tidak sanggup menahan tawaku dan menunjukkannya.

"Have i told you that you're the biggest mistake that i ever had?"

Aku memang mengharapkan respon seperti yang baru saja Daniel lakukan. Dia mengerutkan dahinya dan berkata,

"Apa maksudmu?" Tanyanya.

"Forget it," ucapku. "I need to clear my head," aku berjalan masuk ke kamar.

"Wait, Ashley," panggilnya. "Aku mendengar dengan jelas kau berkata bahwa aku adalah kesalahan terbesarmu,"

"It's good, then," balasku acuh. "Berarti pendengaranmu masih berfungsi dengan baik," aku berjalan lagi menuju kamarku.

Namun Daniel menarik tanganku yang sudah menggapai pintu kamar.

"Semuanya baik-baik saja sebelum keberangkatanku," dia menjawabku dengan nada yang agak tinggi. Aku bisa merasa dia mulai merasa kesal.

Cengkeramannya benar-benar membuatku tidak bisa bergerak. Dia menggunakan kekuatannya dan seperti mengeluarkan amarahnya sekarang.

"Tidak seharusnya aku pergi ke London. Semuanya salah, tetapi aku tidak pernah menyalahkanmu, tidak menyalahkan apapun. Bagaimana bisa kau berkata bahwa aku adalah kesalahan terbesarmu?"

Hari ini bukanlah waktu yang tepat untuk berbicara. Seluruh otakku sudah lelah, begitupun dengan badanku.

"Kau. Sejak awal kau tidak seharusnya..." mulutku terkunci.

Apa yang mau kau katakan, Ashley?

"Lupakan, kumohon," pintaku.

"Tidak, lanjutkan," Daniel menahanku yang ingin melepas cengkeramannya.

Berkali-kali aku mencoba membalasnya, kekuatan Daniel sama sekali tidak setara denganku. Dan walaupun dia tahu aku sama sekali tidak nyaman dengan cengkeramannya, Daniel sama sekali tidak melepasku.

"It hurts," ucapku lirih.

"Aku tidak akan melepasmu sampai kau menjawabku. Aku seharusnya tidak apa?"

"Kau seharusnya tidak membuatku menyukaimu!" Balasku memaki. "Kau puas? Sekarang lepaskan aku!"

Daniel akhirnya melepaskan tangannya. Aku kembali membuka pintu kamarku dan bergegas ke kamar mandi.

Tetapi Daniel tiba-tiba menarik tanganku hingga tubuhku ikut tertarik. Dia merangkulku, dan menciumku.

Yes, he just kissed me.

Apakah dia sedang mencoba mencari tahu apakah aku masih menyukainya?

Dengan bodohnya, aku tidak menarik diriku dan malah mengikuti kemauannya.

Tetapi akhirnya aku mengerti sesuatu.

My heart is still yearning for him...

"This isn't right," ucapku. Aku teringat akan Jared dan akhirnya mampu menarik diriku menjauh. "I have Jared now," balasku.

"Kau masih tidak mengerti apa yang kau inginkan?"

"I want you to stop seeing me," jawabku.

"Tidak, tidak akan. Aku tidak akan pernah mempercayai ucapanmu setelah aku mendapatkan jawaban darimu tadi,"

Jawaban apa?

"Please, Dan. I have boyfriend now. You should leave," pintaku.

"Break up with him,"

"No way,"

Aku tidak pernah berpikir untuk memutuskan hubunganku dengan Jared. Bagaimanapun juga, dia adalah atasanku. Kalau kata putus itu datang dari mulutku, apa yang harus kulakukan saat menghadapnya nanti. Mungkin kalau dia yang memutuskanku terlebih dahulu, keadaan akan lebih mudah.

"Lalu?"

Stay. Aku menginginkanmu, bodoh.

Tuesday, 30 June 2015

[Continuous] New Season (Part 5)

Seriously, Ash?”

Aku menghela napasku dan menjawab telepon Tyler. “I can’t, Tyler, sorry,” setelah mengucapkan salam, aku langsung menutup teleponnya.

Aku mengetuk-ngetuk pulpen di tangan sambil memainkannya. Padahal banyak sekali tugasku belakangan ini, tetapi pikiranku sangat kacau. Aku terus mencoba untuk mengerjakan dan hasilnya nihil. Walaupun aku sudah memaksa otakku bekerja di depan tumpukan buku ini, aku tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.

Sampai hari ini, di hari keberangkatan Daniel, aku belum bertemu dengannya. Kejadian seminggu lalu membuatku sangat ragu untuk bertemu. Sepertinya aku telah mengecewakan Daniel pula. Lagipula, dia juga tidak mencoba untuk menghubungiku selama ini.

 No, this isn’t right.

Bodoh. Kalau hari ini aku tidak bertemu, kemungkinan aku akan bertemu dengannya akan bertahun-tahun kemudian. Aku seharusnya pergi sekarang juga. Masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum jadwal keberangkatan Daniel. Seharusnya masih banyak waktu untuk menemuinya secepat mungkin.

What is this, God?

What are you doing here?” tanyaku, tidak percaya.

Daniel melihatku. Wajahnya begitu kurus, membuatnya sedikit berbeda darinya yang biasa kukenal. Dia tersenyum namun aku tidak membalas senyumannya.

Seeing you,” jawabnya. Suaranya terdengar kelelahan. Aku tidak tahu apa yang selama ini terjadi kepadanya hingga membuatnya seperti sekarang. “Aku ingat hari ini kau ada kelas, kan? Aku kesini untuk melihatmu, Ashley,” jelasnya.

I’m also on my way to see you.

“Kau seharusnya sudah siap-siap berangkat ke bandara sekarang,” aku melihat jamku. Aku seolah-olah bersikap cuek walaupun tidak sanggup menahan bahagia.

Mengapa aku selalu menarik diriku sendiri setiap di depannya? Setiap kali Daniel melangkah lebih dekat, aku menarik diriku mundur lebih jauh.

“Semuanya sudah siap,” jawabnya. “Hanya perasaanku saja yang tidak,” tambahnya lagi.

“Kau harus sukses disana, Dan,” aku beralih.

Do you feel nothing?” tanyanya.

Of what?

My departure,

I feel happy for you, of course,” akhirnya aku tersenyum. Senyum palsu seperti waktu itu.

Daniel melihatku dan berkata, “You’re doing it again,” ucapnya.

Apa yang kulakukan?

You’re lying, and I can see it clearly,”

What lie?” tanyaku menutupi keterkejutanku.

Daniel melangkah semakin dekat kepadaku dan aku masih menarik diriku. Dia lalu cepat-cepat berjalan sambil menarik tanganku.

“Katakan kalau aku benar, mengapa kau selalu berbohong kepadaku?”

Aku menepis tangannya. “Aku tidak mengerti maksudmu,” jawabku.

“Hanya tinggal beberapa jam lagi sebelum aku berangkat dan kau masih akan bersikeras membohongiku?”

Bagaimana… tidak. Tidak mungkin Daniel tahu. Tetapi dari matanya, dia nampak sangat yakin kali ini. Bagaimana mungkin dia bisa benar-benar mengenaliku?

Aku mengecek jamku sekali lagi. Mengetahui semakin banyak waktu yang kuhabiskan sia-sia, aku bertambah panik. Sesuatu di dalam diriku yang saling berlawanan sedang bertengkar habis-habisan.

Kiss me,” ucapku, jelas.

Bukan hanya Daniel, aku cukup terkejut saat menyadari apa yang baru saja aku katakan. Mungkin akhirnya aku tahu pihak mana yang menang dan berhasil mengontrol diriku. You should have no regret, Ashley.

Daniel tidak ragu lagi berjalan dan berusaha menciumku. Sebelum menutup mata, aku sangat yakin dapat melihat raut senyum di wajah Daniel meski hanya sepersekian detik. Berbeda dengan Daniel, aku merasa gugup. Aku yang memintanya, namun aku sendiri yang ragu.

Yes, you should know it now.

You did it.

Aku tidak mau membuka mataku dan kembali menghadap kenyataan. Meski Daniel sudah melepaskanku, aku tidak mau mengakui bahwa beberapa detik tadi adalah hal terhebat yang pernah kurasakan.

Bahkan aku sendiri akhirnya mengerti sudah seberapa besar perasaanku ini berkembang.

Tidak ada penyesalan, Ashley.

Disaat aku mulai mencoba berbicara, Daniel membungkamku.

I understand it clearly,” ucapnya.

Don’t go…” akhirnya, setelah berkali-kali suaraku tertahan untuk mengatakan hal ini.

Aku tahu, walaupun aku mengucapkannya sekarang, semua sudah terlambat. Aku hanya ingin tidak memiliki penyesalan lagi selain semua kepalsuan yang pernah kukatakan kepadanya. Ini hanya ucapan egois untuk memenuhi keinginanku saja.

Now you say it,” dia masih tersenyum, seperti puas denganku.

Aku berjalan mendekat dan meraba sesuatu di lehernya. Daniel masih mengenakan liontin itu, dan aku membukanya. Aku tersenyum saat melihat fotoku di dalam liontin tersebut.

“Bolehkah aku minta satu hal kepadamu?”

Daniel mendengar baik-baik, “Saat debutmu nanti, bisakah kau masukkan lagu ‘One and Only’ di albummu?” pintaku.

Lagu tersebut belakangan ini kudengarkan saat aku sedang menunggu Daniel di apartemennya. Aku jarang sekali mendengar lagu-lagu Vocation, tetapi saat aku menemukannya, lagu tersebut sangat adiktif.

You’re my one and only, the first that goes lastly,

There is no goodbye for us…

 *****

Tuesday, 5 May 2015

[Continuous] New Season (Part 4)

Aneh sekali. Belakangan ini aku kesulitan menemui Daniel. Apartemennya selalu kosong dan disaat aku meneleponnya, dia selalu berkata ada urusan penting. Karena aku selalu datang ke tempatnya, dia memberikan kunci cadangan apartemennya untukku. Aku sering masuk dan menghabiskan makanannya lalu pergi begitu saja. Tetapi kali ini, aku sengaja berbelanja untuk membayar seluruh makanan yang sudah kuhabiskan tanpa izin.

Sebenarnya aku cukup kecewa tidak bisa melihatnya selagi aku sedang begitu berbaik hati memberikan banyak makanan untuknya. Aku meletakkan isi belanjaan satu persatu ke tempatnya. Daniel mengatur suplai dapurnya dengan begitu rapi dan teratur sehingga membuatku yang perempuan merasa malu. Pola hidupnya benar-benar berbeda dengan penampilannya. He's a total weirdo.

Karena cuaca di luar begitu panas, aku merasa tenagaku habis hanya karena berjalan sebentar saja. Kasur Daniel nampak menggiurkan bagiku, apalagi dengan bedding-nya yang rapi dan sangat nyaman. Tidak sadar aku sudah melemparkan diri menarik bantal dan selimut. Sepertinya Daniel tidak akan datang kurang dari 2 jam, jadi aku bisa tidur cukup lama.

"You look very cute while sleeping," ucap seseorang yang langsung membangunkanku.

Astaga. Aku bisa melihat Daniel berbaring di sebelahku sambil memangku wajahnya dan menatapku dekat-dekat.

"Lain kali jangan pernah tidur di hadapan pria lain," balasnya.

Saking terkejutnya, aku loncat dan menarik diri jauh-jauh. Setelah melihat sudah berapa lama aku tertidur, mataku terbelalak. Sialan, baru 1 jam tertidur dan terbangun karena pengganggu ini. Tidur siangku benar-benar tidak berkualitas sama sekali.

"Where have you been?" tanyaku mengusap mata.

"My band just signed a contract with our new label," jawabnya sambil bangkit dari tidurnya.

"Benarkah? Apa label kalian sekarang?" tanyaku.

"S International,"

Aku menatapnya tidak percaya. Label tersebut adalah salah satu yang terbesar dan paling terkenal. Bagaimana bisa band indie-nya masuk ke dalam label tersebut?

"Awalnya aku menolak tawaran mereka, tetapi member lain selalu mendesakku untuk menerimanya. Aku tidak tahu, tetapi kurasa visi mereka begitu berbeda denganku,"

Melihat Daniel merasa tidak nyaman, aku mengerti apa maksudnya. Daniel benar-benar menyukai hidupnya yang tenang dan bisa bermusik dengan santai. Dia adalah tipikal musisi berbakat yang memang mencintai musik bukan karena uang ataupun popularitas. Itulah salah satu alasannya dia selalu memilih jalur indie selama ini. Tetapi bersikukuh dengan keinginannya tersebut selagi member lainnya berlawanan dengannya adalah hal yang egois.

"Lihat sisi baiknya, setidaknya kau kini lebih sibuk dari biasanya, kan?"

Daniel menatapku. "Tidak sama sekali. Kalau begitu artinya waktuku bersamamu akan semakin berkurang lagi dan aku tidak mau,"

Ah, aku lupa. Pria ini menyukaiku. Dia terus menunjukkannya sekarang meskipun aku terus-menerus menolaknya. Bagiku Daniel tidak lebih dari kakak dan sahabat baik.

"Tetapi itu masih hal yang bagus menurutku, membiarkan seluruh dunia mendengar musikmu, bukankah itu sangat hebat?"

Daniel nampak ragu. "Do you like it?" tanyanya.

"Melihat kesuksesanmu? Tentu saja! Siapa yang tidak?"

"I'll do it for you, then"

Daniel tersenyum, nampak tidak sanggup menahan kebahagiaannya.

*****

Monday, 20 April 2015

[Continuous] New Season (Part 3)

Aku mengetuk pintu Daniel berkali-kali tetapi tidak ada yang membuka. Mungkin dia sedang sibuk dengan band-nya, pikirku. Aku mendatangi studio band Daniel dan juga tidak menemukannya. Menurut teman-temannya, Daniel tadi pagi memang sempat datang dan setelah itu pergi entah kemana.

Kalau sejak tadi dia mengangkat teleponku, aku tidak akan serepot ini. Dia memang memiliki kebiasaan meninggalkan ponselnya sembarangan. Apalagi disaat kubutuhkan, dia sangat sulit untuk ditelepon dan lebih mudah kudatangi saja apartemennya.

Aku kini menyesal tidak pernah memiliki teman dekat selain Tyler dan Daniel. Sudah jelas di saat sekarang aku tidak mau menemui Tyler. Daniel adalah satu-satunya pilihan terakhirku. Aku akhirnya memberikan pesan kepadanya.

Kau kemana? Aku lapar sekali, butuh teman makan kalau tidak aku akan puasa sampai kau mengajakku makan.

Tiba-tiba beberapa menit kemudian, Daniel membalasku.

Aku sedang meeting, pulang sekitar jam 3. Masuk saja ke apartemenku. Kuncinya di bawah rak sepatu paling bawah.

Aku kembali ke apartemennya dan benar saja, dia menyimpan kunci di bawah rak sepatunya. Aku masuk dan langsung melihat kulkas. Ada beberapa lembar pizza dan spaghetti yang bisa kupanaskan dan dimakan.

Setelah makan, aku memilih menunggu Daniel dan berkeliling apartemennya. Aku belum pernah masuk sendirian ke kamarnya sebelumnya. Kalau dia memang pulang jam 3, masih ada waktu lama untuk melihat-lihat.

Aku masuk ke dalam kamarnya dan rupanya semuanya tertata rapi. Sulit sekali mengakui kalau vokalis band seperti dirinya peduli akan kebersihan.

Di salah satu meja, bertumpuk banyak barang yang diletakkan ke dalam kardus. Aku membuka dan mendapati barang-barang tersebut adalah kenangan kami saat kecil dulu. Ada juga album foto yang berisi kami berempat waktu kecil. Bahkan aku saja tidak menyimpan semua itu.

Aku menemukan sebuah liontin yang dulu kami miliki masing-masing. Tyler memberikan liontin tersebut kepada kami sebagai oleh-oleh. Dia berkata bahwa liontin ini akan mengabulkan permintaan dengan menyelipkan foto orang yang disukai di dalamnya. Menurut Tyler, liontin ini dapat membuat orang tersebut berbalik menyukai kami. Tentu saja aku meletakkan foto Tyler. Tetapi aku tidak tahu siapa yang dipilih Daniel karena kami semua merahasiakan pilihan kami masing-masing.

Tentu saja, Kak Aubrey...

Seharusnya aku tidak perlu menebaknya lagi. Pada saat aku melihat foto Kak Aubrey di dalam liontinnya, entah mengapa aku merasa ada sedikit kekecewaan.

Sebenarnya aku berharap menemukan foto lain selain Kak Aubrey. Tetapi selain Kak Aubrey, kakakku yang paling cantik di mata pria ini, siapa lagi yang memungkinkan.

Dasar laki-laki.

Aku teringat bahwa Daniel berkata dia tidak benar-benar menyukai Kak Aubrey. Setelah ini aku semakin yakin bahwa ucapannya memang bohong. Sejak awal alasannya itu tidak masuk akal.

Tetapi mengapa aku tiba-tiba menjadi begitu marah seperti ini? Hanya karena aku mengetahui kalau Daniel memang menyukai Kak Aubrey, yang sebenarnya sudah sejak lama aku mengakuinya.

Mengapa dia harus berbohong malam itu? Aku tidak paham lagi apa maksudnya.

Aku sedang duduk sambil menonton TV saat Daniel akhirnya datang. Wajahku tidak bisa kukendalikan dan terus merengut sejak tadi.

"Kau sudah makan?" Tanyanya sambil membuka jaketnya.

Aku hanya mengangguk.

"I bought you chicken," dia meletakkan bungkusan makanan di hadapanku.

"Aku sudah makan," jawabku dan tidak tertarik sama sekali.

Aku yakin Daniel pasti merasakannya. "What's wrong?" tanyanya sambil duduk di sampingku.

"Tidak, aku hanya teringat sesuatu," balasku. "Kau ingat liontin yang dulu Tyler berikan?" Aku menatap matanya.

"Oh... Yang kalau kita masukkan foto ke dalamnya nanti orang itu akan menyukai kita juga?" Dia membenarkan.

"Waktu itu siapa foto siapa yang kau masukkan?" Tanyaku, terus terang.

"You saw it in my room, right?"

Bingo. Bagaimana dia bisa tahu?

Daniel menyubit pipiku. "Bodoh," ucapnya. Selagi aku kesakitan karena dia cukup menggunakan banyak tenaga, dia akhirnya menjawabku. "Kau mengambilnya atau tidak?" Tanyanya.

"Tentu saja tidak. Liontin itu masih ada di kardusnya,"

Daniel akhirnya berjalan masuk ke kamarnya. Pada saat keluar, dia menunjukkan liontin tersebut. Dia duduk lalu memperlihatkan liontin dengan foto Kak Aubrey di dalamnya.

"Kau melihat yang ini, kan?" Aku mengangguk. Itu memang liontin yang kulihat tadi. "Ini punya Tyler. Dia meninggalkan ini dulu di rumahku,"

"Lalu dimana milikmu?" Tanyaku.

Dia mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Astaga, dia masih memakai liontin usang tersebut.

"Aku sudah melapisinya dengan bahan yang lebih bagus lagi, tetapi liontin ini masih disini," warnanya memang nampak masih baru tetapi bentuknya masih sama seperti milikku maupun Tyler.

"Dan siapa yang di dalam liontin itu?" Tanyaku. Mungkin aku terlalu banyak menginterogasinya kali ini.

"Kau," jawabnya. Matanya menatapku begitu serius sehingga leluconnya benar-benar menjadi tidak lucu.

He must be joking. "Nice," balasku. "Ayolah, Dan. Kalaupun itu Kak Aubrey, aku hanya minta kau jujur kepadaku dan tidak perlu berbohong,"

Daniel tersenyum. "Okay, it's Aubrey, for God's sake,"

Aku tertawa miris. "I knew it! Semua yang kau ucapkan itu bullshit,"

Karena terbawa kesal, aku mengambil jaket dan tasku untuk segera pergi dan menghilang dari hadapannya.

Daniel menarik tanganku, "Kau mau kemana?"

Aku menatapnya dengan sangat marah. "Away from you," jawabku.

"Aku tidak mengerti denganmu. Apa salahku kali ini?"

Dia masih menahanku. "Kau tidak salah apa-apa. Aku sedang cukup emosional hari ini. Anggap saja aku terlalu mengharap banyak darimu,"

Saat aku hendak pergi lagi, dia menarik tanganku lagi. Tanganku kesakitan karena cengkeramannya yang sangat kuat.

"Kau yang selalu menyangkut-pautkan semuanya dengan Aubrey, dan selalu berakhir seperti ini. Kau sangat keras kepala, tahu tidak?"

Tentu saja aku berbalik marah kepadanya. "Kau yang membuatku berharap kau berbeda dengan pria lainnya, tetapi nyatanya kau juga masih Aubrey-sentris,"

"Apakah aku perlu membuka liontin ini?" Tanyanya.

"Buat apa? Kau sendiri sudah mengakui kalau isinya Aubrey, kan?"

Dia membuka liontin itu.

Aku terkejut. Bukan foto Aubrey di dalamnya, namun aku. Daniel benar. That's me inside.

"Aku sudah menjawabnya sejak awal, kan? Tetapi kau begitu tidak mempercayaiku, sehingga aku terpaksa mengikuti kemauanmu dan berkata di dalamnya adalah Aubrey,"

Daniel melihatku. "Ashley, tidak bisakah aku meminta satu hal saja darimu?"

Firasatku mulai tidak enak.

"Apapun yang terjadi kepada Tyler, kurasa dia tidak akan pernah melirikmu. Kalau kau masih bersikeras seperti sekarang, kau hanya akan terus menyakiti dirimu sendiri,"

"Kau memintaku untuk berhenti mengharapkannya? Setelah selama ini?" Aku kesal bukan main. "Percaya kepadaku, Dan. Seharusnya kau juga menyadarinya. Kalau aku bisa semudah itu menghapus dirinya, sudah sejak dulu kulakukan dengan senang hati,"

Tyler hanya memberiku airmata dan harapan kosong. Tetapi semua orang juga tahu melupakan seseorang dan mengabaikan perasaan ini bukanlah pekerjaan mudah. Aku menyukainya sekaligus membencinya.

"Tetapi kau bisa mulai melupakannya dengan membuka hatimu untuk orang lain,"

Aku menatapnya. "Kau?" Dia mengangkat kedua bahunya. "Daniel, you're like a big brother to me, and the best one,"

"Just look at me, Ashley," pintanya. Dia menyandarkan kedua tangannya di bahuku. Matanya menatapku semakin dalam yang membuatku kebingungan dan terpaksa menatapnya juga.

"Please." dia mengucapkannya dengan nada surau, dan terus bergema di pikiranku.

*****

Friday, 27 February 2015

[Continuous] New Season (Part 2)

"You must be joking," aku langsung menutup telepon dan mengintip keluar jendela.

Daniel sudah berada dibawah sana sambil melambaikan tangannya kepadaku.

Dia sudah memiliki dua tiket konser New Era, band indie yang begitu kusukai. Well, aku menyukainya juga karena vokalisnya super tampan dan hot.

Aku sendiri baru mengetahui konser tersebut belakangan ini, dan semua tiketnya laku keras. Walaupun masih indie, band ini memang sudah memiliki fans sendiri.

Aku keluar dan menemui Daniel. Dengan cepat aku merampas tiket tersebut dan tidak percaya bahwa dia berhasil mendapatkan first row.

"Bagaimana bisa?" Tanyaku, masih terkejut.

"Rahasia," jawabnya sambil mengedipkan mata.

“Ini tiket asli, kan?” tanyaku.

“Tidak, ini aku cetak sendiri,” dia berusaha melucu.

Jokes-mu makin lama makin tidak berkelas, tahu,” untuk tersenyum saja rasanya sangat sulit. Aku memperhatikan tiket tersebut dan akhirnya bertanya, “Kau juga ikut menonton, kan?” tanyaku saat melihat bahwa ada 2 tiket yang dibawanya.

“Kalau aku tidak menonton, tiket ini untuk siapa?” dia balik bertanya.

“Jadi maksudmu teman-temanku tidak ada yang menyukai New Era selain aku?”

You’re telling me that you have friends?” sialan orang ini.

Aku memukul bahunya. “Terima kasih sudah mengingatkanku, ya aku memang tidak punya teman selain kau dan Tyler, puas?” jawabku.

Daniel tersenyum. “Aku juga tidak ingat memberimu 2 tiket, I just showed it to you, not giving you,” dia mulai lagi…

Tetapi tiketnya sudah ada di tanganku. “Pick me up at 10, I keep this,” aku mengantungi tiket tersebut. Aku berjalan masuk ke rumah kembali, namun akhirnya berbalik,

You are the best, Dan,” terima kasih, maksudku.

Aku melihat Daniel tertawa dan dia melambaikan tangan kepadaku.

*****

Wednesday, 18 February 2015

[Continuous] New Season (Part 1)

Aku, Kak Aubrey, Tyler, dan Daniel sudah bersahabat sejak kecil. Kakakku Aubrey dan Daniel adalah teman sebaya dan selalu satu kelas di sekolah. Tyler sendiri adalah tetanggaku yang lebih tua sekitar 3 tahun dengan Kak Aubrey. Aku adalah yang paling muda dari geng ini.

Sejak awal, aku benar-benar menyukai Tyler. Sosoknya yang dewasa dan benar-benar perhatian denganku adalah penyebab utamanya. Tyler adalah tipikal laki-laki yang aktif dan begitu tergila-gila dengan olahraga basket. Memang hampir setiap hari kami semua bermain baket bersama. Aku hanya duduk di luar lapangan dan melihat Kak Aubrey, Tyler, Daniel, dan beberapa kawanan Tyler lain bermain bersama. Dari kejauhan, aku selalu memandang kagum permainan Tyler. Aku sangat yakin suatu saat dia akan menjadi pebasket yang profesional.

Cukup berbeda dengan Tyler, Daniel adalah tipikal laki-laki dengan pemikiran bebas. Dia sangat menyukai musik dan hidupnya urakan. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana dia dewasa kelak, seorang rocker dengan penampilan serba gothic atau emo tanpa pekerjaan tetap. Aku tidak memandang rendah Daniel karena aku juga mengagumi cara berpikirnya yang seakan tanpa beban. Aku hanya tidak bisa memastikan masa depannya akan berakhir seperti apa kelak.

Sedangkan Kak Aubrey... Ah... Kakakku...

Menjadi anak bungsu dan memiliki kakak perempuan yang cantik dan pintar adalah kesialanku. Tentu saja aku selalu akan dibandingkan dengannya, dan dari sisi manapun, Kak Aubrey adalah yang terbaik. Dia lebih menonjol di bidang akademik, dan mimpinya sebagai guru memang pas sekali untuknya. Aku yakin dia bisa mewujudkan mimpinya itu.

"Ashley," Tyler memanggilku saat aku mulai melamun dan memikirkan hal lain.

Dia mengajakku untuk masuk ke dalam lapangan. "She's my cute little sister," dia memperkenalkanku kepada teman-temannya. Wow, sister, katanya.

Kak Aubrey hanya tersenyum-senyum saat aku bersalaman dengan teman-teman Tyler dan langsung berkata, "Dia mirip denganku, bukan?" dia berusaha meluruskan bahwa aku adalah adiknya.

Sejak kecil aku jarang tersenyum meskipun Tyler berkata aku sangat cantik saat tersenyum. Karena itulah aku hanya menunjukkan senyumku kepadanya, bukan ke orang lain. Terlebih lagi, aku senang bermanja-manja dengannya, sementara dia hanya menepuk-nepuk kepalaku seperti his puppy, Cornie.

Kali ini aku cukup terkejut saat Tyler berkata bahwa aku adalah adiknya. Hal itu seolah-olah menjelaskan bahwa aku tidak lain dianggap sebagai adiknya. Hanya sebatas itu. Well, aku sebenarnya juga tidak mengharapkan lebih, tetapi kenyataan itu membuatku terpukul.

Mungkin sejak itu seharusnya aku sudah belajar untuk merelakan Tyler selama-lamanya...


*****