Saturday, 28 November 2015

[One Shot] A Piece of an Introvert's Diary

Kupikir pada awalnya, tidak ada yang mengerti jalan pikiranku. Ya, mereka semua tidak tahu.

Kalaupun ada seseorang yang berkata memahamiku, mereka tidak tahu apa artinya itu. Bagaimana semua ini bagiku, bagaimana aku melihat semua dalam persepsiku sendiri.

Terkadang aku merasa peperangan ini seperti aku melawan seluruh dunia. Dicari ke ujung bagian manapun, tidak ada yang bisa bersekutu denganku.

Aku bertahan pada sebuah pijakan batu kecil dan menopang diriku sendiri. Selagi mereka semua berjalan dan bergerak, aku diam tak bersuara. Hanya bayanganku yang mengekori gerakan mereka. 

Perlahan, beberapa menghampiriku dan bertanya-tanya. Tembok besar menghadang mereka dan jawabanku selalu sama.

Diam. Tertawa palsu dan kembali diam. Mengalihkan pembicaraan kalau memang dibutuhkan. Karena semua orang suka membicarakan diri sendiri, maka berikan pertanyaan mengenai kehidupan dan masalah mereka.

Tembok itu tidak akan runtuh. Untuk sekian lamanya, tembok itu kokoh berdiri melindungiku. Pijakanku masih berada pada tempatnya. Aku, sekali lagi akan selamat dari arus mereka.


The Tendency as an Aries person

I read an article when I was in middle high school. It said what kind of stories that someone should make based on their horoscope.

I am Aries and it's written that I should be more focus on short stories, because we tend to easily get bored with one idea.

And years later, I could agree with that. I tried myself to create a long-term project but it always stuck in the middle. I might have tons of incomplete titles, with a lot of revisions and still haven't completed yet.

But when I made a short stories, I kinda feel enjoyed. It didn't really need a long time to finished it while I was getting busy with another idea.

I'm only saying that the article is right. Whoever the author of that article, he did a great analysis and I could related to it.

And I actually had a long story on hold. It's really hard to me to get in a right mood for one title and... Yeah, it hasn't been completed. I'm a little confused about the ending. Maybe it won't get published anyway.

Ah... I'm terribly sorry...



Friday, 27 November 2015

[One Shot] Life in a Scattered Puzzle

Wesley melingkarkan sebuah scarf ke leherku untuk menghalangi udara dingin yang luar biasa menusuk hingga ke tulang. Aku memperhatikan pria ini dan tiba-tiba tersenyum. Dia menyadarinya dan bertanya, dan aku menjawab tidak ada apa-apa.

Wesley, apakah kau benar-benar menyukaiku? Sangat menyukaiku sampai kau rela menyerahkan scarf milikmu dan menahan udara dingin ini agar aku tetap hangat? Apakah perhatianmu kepadaku yang berlebihan selama ini adalah bentuk perasaanmu? Wesley, bagaimana kalau aku berkata kepadamu,

Aku tidak bisa menyukaimu sebesar kau kepadaku.

Wesley membawaku ke sebuah tea saloon. Dia tahu kalau aku tidak menyukai kopi meski dia adalah penikmat berat kopi. Terkadang aku berkata kepadanya kalau tidak masalah kami mendatangi coffeeshop, namun Wesley menolak. Dia juga hendak mengurangi konsumsi kopi, menurutnya.

Apakah kau tidak tahu semakin sering kau memaksa dirimu untuk menyesuaikan denganku, semakin berat beban ini harus kupikul?

Dia memesankan darjeeling tea untuk kami berdua. Aku memperhatikan caranya meminum teh. "You're not supposed to put a lot of sugar in your tea," ucapku.

Dia menatapku. "It's plain," dia mengecap teh tersebut, "And a little bit bitter,"

"But it's less bitter than coffee," aku hampir tertawa.

"Ya, dan aromanya juga sangat menarik," aku senang Wesley nampak menikmati tehnya.

Aku dan Wesley menikmati udara dingin di luar sambil menghangatkan diri dengan secangkir teh. Kami membicarakan banyak hal dan memikirkan banyak hal juga.

"Kalau kita menikah nanti, kau ingin tinggal dimana?"

Aku terkejut namun mencoba menutupinya. Menikah dengan Wesley tidak pernah menjadi keinginanku, meski Wesley adalah pria terbaik yang pernah kutemui. Walaupun dia merasa cocok satu sama lain, aku tidak berpikir demikian.

"Aku suka sekali daerah pegunungan seperti ini," ucapku sambil memperhatikan pemandangan di luar.

"Apakah aku sudah harus menginvestasikan sebuah rumah disini?"

Aku meliriknya. "Tetapi tempat ini sangat jauh dari kantormu," dan jauh dari perkotaan.

"Ah, begitu ya? Lalu bagaimana?"

Pertanyaan ini mengarah ke hal-hal yang sangat kuhindari. Aku tidak ingin memberi harapan palsu kepadanya. Tetapi aku juga tidak memiliki jawaban dari pertanyaannya.

"Let's not think about it and focus on our present," elakku.

Wesley nampak kecewa. Sepertinya dia mulai merasakan bahwa aku tidak melihat masa depan bersamanya. Ya, kalau dia berpikir seperti itu, dia benar. Sayangnya dia tidak pernah menanyakannya kepadaku.

"Good night," ucap Wesley setelah mengantarkanku ke depan pintu studio milikku.

"Good night," balasku.

Dia mengecup dahiku dan melambaikan tangannya kepadaku selagi berjalan pulang. Aku membalasnya dengan sebuah senyuman kecil sampai dia tidak terlihat lagi dari penglihatanku.

Setelah selesai mandi dan bersiap tidur, seseorang mengetuk pintuku. Kupikir orang itu adalah Wesley. Dia sering melakukannya dan berkata bahwa dia sudah merindukanku meski baru beberapa menit berlalu.

Tetapi siapa yang kutemui di hadapanku kali ini bukanlah Wesley. Seseorang yang tidak pernah kuharapkan untuk datang kini berada tidak lebih dari 30 cm di depanku.

Dengan wajah sendunya dia langsung memelukku tanpa izin. Di pelukanku, dia menangis dan tubuhnya gemetaran. Aku mulai mengerti apa yang terjadi kepadanya.

Berapa kali kau harus mengalami patah hati?

Saat duduk di sofa, dia mulai menceritakan masalahnya. Benar saja dugaanku. Dia baru saja putus dengan seorang wanita yang kuingat bernama Claire. Setidaknya hubungannya kali ini sudah berjalan lebih lama dibandingkan sebelumnya. Namun semakin lama hubungan mereka, semakin lama pula curhatannya.

Katakan kepadaku, berapa lama lagi kau ingin terpuruk seperti ini dan tidak pernah melihat keberadaanku di sisimu?

Thursday, 19 November 2015

[Muse] Yearning

#np 박효신 - 동경



Aku tidak sengaja mendengarkan lagu dari iPod-ku. Tiba-tiba saja sebuah lagu terlintas dari benakku. Sebuah lagu lama yang hampir terlupakan olehku. Ketika lagu ini dimainkan, aku langsung mengingatmu. Mungkin, ini adalah satu-satunya yang dapat mengungkapkan kondisiku selama ini hingga sekarang.

우린 서로 너무도 다른 세상에 살아왔죠
Kau dan aku hidup di dua dunia yang sangat berbeda,

한번 스쳐 지났을 뿐
Kita hanya berpapasan sekali,

그 후로 난 멀리서 이렇게 기다려왔죠
Kemudian, aku menantimu seperti ini dari kejauhan,

언젠가는 내 헛된 꿈이 혹 이뤄질까
Kapankah mimpiku menjadi kenyataan?

날 기억이나 할까요
Apakah kau masih mengingatku?

내 이름조차 생각이나 날까요
Mungkinkah kau masih mengingat namaku?

누군가 매일 그대를 위해 늘 기도해온 걸 알까요
Akankah kau tahu bahwa seseorang selalu mendoakanmu setiap hari?

그대가 난 부럽죠
Aku iri kepadamu,

나 같은 사람 너무나 흔하겠죠
Seseorang sepertiku mungkin tidak istimewa,

혹시나 그대 알고 있나요
Mungkin kau sudah tahu,

얼마나 행복한 사람인지
Betapa bahagianya kau,

아껴왔던 내 맘이 흔하게 묻혀질까봐
Kupikir perasaanku kepadamu ini akan terkubur seperti tidak ada yang istimewa,

단 한번도 편지조차 못했는데
Sehingga aku tidak pernah mengirimimu surat,

날 기억이나 할까요
Akankah kau mengingatku?

내 이름조차 생각이나 날까요
Akankah kau mengingat namaku?

그대는 이미 누군가에게 큰 의미라는 걸 알까요
Apakah kau tahu bahwa kau sangat berarti bagi seseorang?

그대를 사랑해요
Aku mencintaimu,

나도 모르게 이렇게 돼 버렸죠
Aku menjadi seperti ini tanpa kusadari,

혹시나 그대 알고 있나요
Mungkin kau sudah tahu,

그 날 이후로 지금까지
Bahwa setelah hari itu,

매일 그대의 곁에서
Aku terus berada di dekatmu,

맴돌았다는 걸 그대를 지켜왔었다는 걸
Dan mengawasimu,

날 사랑하면 안돼요?
Tidak bisakah kau mencintaiku?

단 하루라도 그럴 수는 없나요?
Tidak bisakah walau hanya sehari saja?


허튼 생각이란 거 알지만
Aku tahu ini hanyalah pemikiran sia-sia, namun,

한번은 말하고 싶었죠
Aku ingin sekali menanyakanmu sekali saja,

사랑해도 되나요?
Dapatkah aku mencintaimu?

혼자서라도 사랑하면 안돼요?
Tidak bisakah aku mencintaimu sendiri meskipun kau tidak mencintaiku?

허튼생각이란거 알지만
Aku tahu ini hanyalah pemikiran sia-sia, namun,

한번은 말하고 싶었죠
Aku ingin mengucapkannya sekali saja,


그대를 사랑해요..
Bahwa aku mencintaimu...


Setelah lagu tersebut selesai, aku ragu. Apakah aku harus memutarnya lagi? Kedua kalinya lagu ini kudengarkan akan menjadi awal dari kali ketiga, dan selanjutnya. Aku akan berakhir mengulangi lagu tersebut hingga aku tertidur pulas. Oh, mungkin sebelum tertidur aku akan mengingatmu lebih dahulu. Kemudian hanya menunggu sebentar saja sampai akhirnya emosiku mulai terbawa.

Mengingatmu dan membayangkanmu, mengapa kau harus mengisi malamku kali ini?

Airmata yang sudah terlanjur menetes terasa sia-sia. Sudah berkali-kali kukatakan kepada diriku sendiri kalau semua ini hanya membuang waktu saja. Aku ingin menyalahkan lagu ini yang masih saja berada di music library, namun sekali lagi, tidak ada gunanya.

Kau,

Ah...

Buat apa aku memanggilmu, bahkan kau saja tidak mungkin teringat kepadaku.

-the end-

Monday, 5 October 2015

Intermezzo: Recently Played Musics

1. Muse - Mercy

As usual, Muse is never failed to amuse me. This time, while listening to this song and close my eyes, it's like imagining myself on a Colosseum, but why? I don't really get it but it means good, like a grand song!

2. Hailee Steinfeld - Love Myself

"Gonna love myself, no, I don't need anybody else" This song is like a remedy to me whenever i feel down.

3. Shannon Williams - Why Why

The one thing that I love about this song is because it reminds me of a typical k-pop song! You know a cute, bright, cheerful, bla bla blah. Even though it's not sung by a korean, but she's good, for real. I love everything about this song. When i said everything, it means including the performance, concept, lyric, voice, EVERY ASPECT OF IT! It's quite sad knowing it wasn't too success, but this song always gives me a positive energy.

4. Fly To The Sky - It Happens To Be That Way & If I Had To Have You

Not a catchy name for a song title, right? But recently, I'm addicted to their newest mini-album, like seriously. I listened to them while dozing off at midnight. It's good, f*ckin' real good. And one thing for sure, i'm already captivated by Hwanhee's voice.

5. Hwanhee - Don't Go Away

It's from his H-Hour Album and I got upset like hell when i realized how good it is. I really like the title song, "While Doing" so i didn't get to listen other songs so I'm repeating this song until I'll get sick of it later. Hwanhee, you... You handsome, manly witch! What kind of spell did you cast, huh?

6. DAY6 - Congratulations

This song is the fastest to be one of my "Most Played" playlist on iTunes. Once I heard it, I suddenly fell in love. It's not a ballad song, not an upbeat too, and it perfectly matched my ideal song's beat. It turned out to be a sad song, but I would get happier whenever I listen to it. I don't really get it why they never performed in any music program, and their debut promotion is quite lacking. BUT SERIOUSLY? IT'S A GREAT SONG PERFORMED BY A GREAT GROUP TOO YOU ROTTED AGENCY!

7. Roy Kim - You Don't Love Me

It's an OST for a Korean Drama "Twenty Again". I'm enjoying the drama, but I listened to the OST first. It's really... It doesn't need any word, come on, it's Roy Kim!

Sunday, 4 October 2015

[One Shot] Linger

Disaat matamu menangkapku, semua ini bagaikan ilusi. Aku lupa diri. Lupa caranya bernapas dan berjalan. Kau memaksaku untuk menghentikan waktu, namun aku tak bisa.

Setiap helaan napas yang kukeluarkan bagaikan detik waktu yang terbuang percuma. Aku tahu harus memanfaatkan momen ini sebaik mungkin. Namun kenyataan bahwa aku hanyalah pria pecundang akan membuatmu kecewa denganku.

Sehingga aku memilih diam. Tidak berusaha memperjuangkanmu.

"Sebentar," ucapnya.

Aku memperhatikan tingkahmu. Kau masih mempesona seperti biasanya meski senyuman di wajahmu mulai berkurang. Sesuatu membebanimu, membuat lipatan di sekitar dahimu.

"No, i'm fine," ucapmu.

Kau sedang berbicara dengan orang lain dan membelakangiku. Aku terus membayangkan banyak hal tentangmu selagi menunggu kau selesai berbicara.

Mengapa aku harus bertemu denganmu?

Kau kembali melihatku. Tanganmu merangkulku seolah perasaan ini hanya tumbuh kepadaku saja. Kita berjalan lagi dan aku masih menahan rasa gugup ini sendirian. Kau nampak begitu nyaman di dekatku. Meski mengetahuinya membuatku senang, aku tidak bisa mengontrol perasaanku. 

Kau mengeluh dengan masalahmu. Wajahmu semakin murung seiring dengan keluhanmu. Hentikan, kumohon. Meski aku tidak bisa memilikimu, yang kubutuhkan kali ini hanyalah senyuman.

Aku harus memastikan bahwa kau berbahagia sebelum aku menghilang dari kehidupanmu.

Lalu kita bertemu dengan pria yang mengembalikan senyumanmu. Aku memperhatikan bagaimana kau dan dia bertatapan satu sama lain. Ah, seharusnya aku segera pergi dari sini. Aku tidak tahan melihat pemandangan ini. Melihatmu, apalagi.

"Join us," ucap pria itu.

Aku tersenyum palsu. Kalau saja seseorang mengetahui apa yang dibalik pikiranku sekarang, mungkin dia akan begitu muak denganku.

Meskipun aku sangat membenci situasi ini, aku memilih untuk bergabung dengan kalian. Setidaknya aku bisa memperhatikanmu lebih lama lagi, pikirku. Rasa candu ini membuatku cukup gila hingga rela melakukan apapun demi melihat sosokmu. Bahkan bersedia menjadi orang ketiga yang mengganggu kemesraan kalian.

Kalau pada akhirnya aku tidak bisa melepasmu, apa yang harus kulakukan?

Selagi kalian berbicara dan bertukar canda, aku larut dalam pemikiran sendiri. Berjalan sambil berpegangan tangan, kau menyandarkan kepalamu di bahunya, dan aku harus menerima pemandangan ini.

Kau tidak akan bisa kumiliki, namun mengapa aku masih bisa merasakan secercah kebahagian disini?

Kemudian, sesuatu menyambarku. Pemikiran bodoh itu. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah terbenak. Aku membenci sekaligus menyukai ide tersebut.

Mungkin mulai sekarang aku tidak akan pernah menghapus status adik ipar yang akan kumiliki.


Melalui status tersebut, aku bisa memuaskan kerinduanku kapanpun yang kumau. Aku bisa berada di sampingmu tanpa khawatir. Aku bisa melakukan apa saja meski itu berarti kau tidak akan pernah membalas perasaan ini.


Persetan dengan perasaanku. Selama aku masih bisa menikmatimu dari dekat, aku tidak peduli.

"Which one do you prefer?" Kau menanyakan pilihanku untuk gaun yang akan kau kenakan. Kebahagiaan itu masih ada rupanya. Disaat kau menyadari keberadaanku ini bukan hanya sekedar bayang-bayang.

"That rose gold one," jawabku.

Kau memelukku saat mendengar jawabanku. "Kau benar-benar mengenalku dengan baik," ucapmu. Rupanya kau sedang berselisih mengenai pilihan warna untuk gaunnya nanti.

Kakakku, ya, pria itu, dia hanya duduk diam dan membiarkanmu mengatur pernikahan. Untuk sekian kalinya aku bertanya-tanya mengapa aku harus ikut kalian. Tetapi setiap aku melihatmu, jawaban itu datang.

I'm addicted to your presence.

Walaupun kau tidak melihatku seperti aku kepadamu, meski aku tahu kau tidak akan menyukaiku. Aku tetap ingin bersamamu selamanya.

Sehari sebelum hari pernikahan, seluruh keluarga besarku datang termasuk sepupuku, Molly. Molly adalah salah satu yang terdekat sekaligus sahabat baikku.

"Hentikan melihatnya seperti kau masih memiliki harapan," ucapnya saat melihatku di pinggir hall.

Aku hampir tidak menyadarinya karena terlalu fokus menonton gladi resik pernikahanmu. Kau begitu cantik dengan gaun yang sama seperti kutunjuk pada itu. Apapun yang kau kenakan selalu tampak cantik bagiku.

Aku hanya tersenyum menanggapi Molly.

"Kau memiliki segalanya, ketampanan, harta, kau juga pintar dan berkharisma. Posturmu sudah sempurna, wajahmu tegas dan..."

"Molly," aku tidak tahan mendengarnya tanpa menahan tawa.

"Dari sekian banyak wanita yang jauh lebih sempurna dibandingkan Miranda, mengapa kau malah menyakiti dirimu sendiri?"

"Molly," panggilku lagi. Meskipun aku bisa memutar waktu dan memilih tidak menyukaimu, aku tidak akan melakukannya.

"I love her with all my heart," jawabku.

"So?"

Aku melihat Molly yang nampak tidak mengerti. "With all my heart, yang berarti kalau aku melepasnya, there's nothing left in me,"

Aku tersenyum pahit. Molly tidak menyukai jawabanku sepertinya.

"You pathetic fool. You're supposed to be strong and move on," kau tidak nampak kuat seperti kelihatannya, benak Molly dari sorot matanya.

"I'm happy enough, Molly," alih-alih tersenyum, aku malah menghela napasku.

Kau dan kakakku sedang mengatur acara untuk besok diatas panggung. Saat melihatku dekat pintu keluar, kau tersenyum dan perasaan itu datang kembali. Rasanya persis seperti seorang pecandu narkoba yang baru memakan pil ekstasi setelah lama tidak mengonsumsinya. Lega dan bahagia dibalik semu. Ya, seperti itu.

"Stop it," ujar Molly. "Hentikan tatapan itu," kau benar-benar menyedihkan, benaknya lagi.

"Bagaimana aku bisa menghentikan semua ini kalau pada kenyataannya aku harus menjadi adik iparnya, Molly?"

Menjauh dari keluarga besarku? Menyendiri di negara lain?

Aku sudah memikirkan banyak hal, cara untuk menghilangkan perasaan ini. Menghilang dan membiarkanku tidak di dekatmu lagi bukanlah cara yang tepat. Mengosongkan hatiku sama saja bertahan hidup tanpa ruh.

"I hope you'll find your own happiness," ucapnya sambil melangkah pergi.

My own happiness?

Apakah ada kebahagiaan lain yang bisa kumiliki selain berada di dekatmu?

Malam harinya, beberapa jam sebelum pernikahan berlangsung, diadakan pesta kecil-kecilan khusus untuk keluarga terdekat saja. Aku datang dengan penampilan terbaikku. Untuk menghadapmu, tentu saja.

"You're really handsome tonight," ujarmu saat melihatku.

Aku tersenyum puas. Upayaku akhirnya terbayar sempurna. Aku begitu mengharapkan kata-kata itu dari mulutmu. Kau, dengan cocktail dress berwarna pastel yang sama cantiknya seperti dirimu.

"Thanks," balasku. Kupikir dengan ketampananku yang melebihi kakakku sendiri, aku masih tidak bisa merebutmu darinya, bukan?

Kau merangkulku dan membawa ke tengah-tengah. Semakin lama aku merasa kau tahu sejak lama bahwa aku menyukaimu. Kau memanfaatkanku. Mengetahui aku akan melakukan apapun untukmu, kau terus menyeretku menuju duniamu.

Kalau hanya dengan tatapanmu aku kembali jatuh cinta, kini kau merangkulkan kedua tanganmu ke leherku dan mengajak berdansa. Lagu ballad yang sedang dimainkan membawa suasana romantis sehingga membuatku tidak tahan untuk menyentuhmu juga. Senyumanmu terus melebar dan nampak luar biasa bahagia. Di atas lantai dansa ini, lagi-lagi aku merasakan getaran seperti kali pertama aku melihatmu.

Apakah kebahagiaan rasanya seperti ini?


"I'm thankful for having a dear friend like you," kau berbisik kepadaku. "For bringing Anderson to my life," kau terus berbicara kepadaku seolah aku tidak menyadari perasaanku.


Kalau aku berkata mengenalkan Anderson adalah penyesalan terbesarku, apa yang harus kulakukan?

"Harrison, kau tidak tahu betapa bahagianya aku bertemu denganmu,"

Pada saat kau memanggil namaku, aku tidak sanggup menahan diri lagi. Rasanya seakan surga dan neraka bercampur menjadi satu. Disaat amarah yang terus kubendung tertumpah oleh secercah kebahagiaan. Rasanya... berantakan.

Pada akhirnya aku hanya tersenyum dan berusaha menjauh darimu. Aku menghampiri Molly dan mencoba menahan ekspresi wajahku.

"Teach me how to stop this," pintaku.

Molly kelihatan sedikit terkejut, namun dia segera paham. "Go somewhere far and never go back again," balasnya.

Aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Hanya Molly satu-satunya untuk berbagi. Aku butuh melepaskan diri dari racun ini. Seluruh tubuh dan pikiranku sudah digerogoti olehnya dan aku tahu itu adalah hal buruk. Tetapi aku takut, apa yang harus kulakukan saat aku merindukanmu nantinya.

"Bagaimana kalau setelah bertahun-tahun kepergianku, aku jatuh cinta kembali setelah melihatnya?"

"Kalau begitu jangan pernah bertemu selamanya," ujar Molly. Dia menatapku lalu berkata lagi, "Kau bisa menangis di depanku, tidak ada siapapun yang melihat," aku tidak yakin apakah dia dapat melihatnya hanya dari raut wajahku.

 Apakah kau masih menganggapku pria kalau aku akhirnya menitikkan air mata karenamu?


Akhirnya pintu menuju neraka tiba. Di hari pernikahannya, aku terpaksa harus berdiri di deretan terdepan dan memasang senyuman di wajahku. Setelah pembicaraan kita semalam, aku belum menyapamu sama sekali dan kau juga terlihat sibuk dan melupakanku.


Bagaimana cara menyimpan perasaanku kepadamu tanpa mengutarakannya kepadamu, selamanya?

Kalau ada penderitaan yang dapat kutukar selain penyiksaan ini, aku rela. Jangan biarkan aku berada di tempat ini dan menyaksikanmu secara resmi dimiliki oleh kakakku sendiri. Kumohon, karena pada akhirnya aku sadar bahwa aku tidak sekuat yang kubayangkan.

"Kau mau kemana?" tanya Molly disaat beberapa menit sebelum prosesi dimulai, aku berusaha meninggalkan tempat.

"Aku tidak bisa, Molly," kumohon, biarkan aku pergi kali ini. "Beri ucapan selamatku kepada mereka. I'll go as you said,"

Molly melihatku dari atas hingga ke bawah. "Good luck,"

Ya, good luck.


Untuk upaya melupakanmu meski aku tahu tidak akan pernah bisa.


Untuk membiarkan kesepian ini semakin berlarut.

Untuk meneruskan hidupku tanpa keberadaanmu di sisiku.

Miranda, sejak awal aku mengenalmu, kau selalu ceria dan bersemangat. Kau menampakkan dirimu bagaikan cahaya yang menyilaukan mata. Aku tidak tahu mengapa kau tidak bisa melihatku sejak aku menunjukkan ketertarikan kepadamu. Tidak ada pria yang selalu menyempatkan waktunya menemuimu kapanpun dan dimanapun demi mendengarkan keluh kesahmu kalau dia tidak menyukaimu. Meski dengan bertemu denganmu membuatku bahagia, kau memaksaku untuk selalu serakah. Aku tidak tahu apakah kau membimbingku ke langkah yang lebih baik atau justru ke lubang yang dalam. Yang jelas, mulai sekarang, aku menyerah. Aku akan pergi sekarang.

Dan akhirnya kita berdua berjalan ke arah yang saling berlawanan...

-end-

Thursday, 1 October 2015

[Collection] The Best Hug

“ That was so gross, stop it Gere !” aku menutup mataku.

Gerald menjulurkan lidahnya, dan kembali mengunyah permen karet tersebut. “ This tastes good, this feels really you,” ujarnya.

Gerald baru saja memakan permen karet yang baru kukunyah. Awalnya aku hanya bercanda menyuruhnya memakan permen karet bekas itu. Dan dia sungguh berani melakukannya.

“ You asked it, Sara,” tambahnya.

“ I was joking,”

“ Tetapi kau selalu tahu bahwa aku selalu melakukan apapun yang kau mau, even if it takes many risks to myself,”

“ Stop it,” pintaku, dan Gerald benar-benar langsung melepeh permen karet tersebut.

Aku tertawa. Gerald tertawa. Aku memukul tepat di dada Gerald yang sudah terasa sangat bidang hingga pukulanku pasti tidak akan terasa apa-apa bagi pria tersebut.


He is the best badass-friend I ever had… Batinku.