Monday, 5 October 2015

Intermezzo: Recently Played Musics

1. Muse - Mercy

As usual, Muse is never failed to amuse me. This time, while listening to this song and close my eyes, it's like imagining myself on a Colosseum, but why? I don't really get it but it means good, like a grand song!

2. Hailee Steinfeld - Love Myself

"Gonna love myself, no, I don't need anybody else" This song is like a remedy to me whenever i feel down.

3. Shannon Williams - Why Why

The one thing that I love about this song is because it reminds me of a typical k-pop song! You know a cute, bright, cheerful, bla bla blah. Even though it's not sung by a korean, but she's good, for real. I love everything about this song. When i said everything, it means including the performance, concept, lyric, voice, EVERY ASPECT OF IT! It's quite sad knowing it wasn't too success, but this song always gives me a positive energy.

4. Fly To The Sky - It Happens To Be That Way & If I Had To Have You

Not a catchy name for a song title, right? But recently, I'm addicted to their newest mini-album, like seriously. I listened to them while dozing off at midnight. It's good, f*ckin' real good. And one thing for sure, i'm already captivated by Hwanhee's voice.

5. Hwanhee - Don't Go Away

It's from his H-Hour Album and I got upset like hell when i realized how good it is. I really like the title song, "While Doing" so i didn't get to listen other songs so I'm repeating this song until I'll get sick of it later. Hwanhee, you... You handsome, manly witch! What kind of spell did you cast, huh?

6. DAY6 - Congratulations

This song is the fastest to be one of my "Most Played" playlist on iTunes. Once I heard it, I suddenly fell in love. It's not a ballad song, not an upbeat too, and it perfectly matched my ideal song's beat. It turned out to be a sad song, but I would get happier whenever I listen to it. I don't really get it why they never performed in any music program, and their debut promotion is quite lacking. BUT SERIOUSLY? IT'S A GREAT SONG PERFORMED BY A GREAT GROUP TOO YOU ROTTED AGENCY!

7. Roy Kim - You Don't Love Me

It's an OST for a Korean Drama "Twenty Again". I'm enjoying the drama, but I listened to the OST first. It's really... It doesn't need any word, come on, it's Roy Kim!

Sunday, 4 October 2015

[One Shot] Linger

Disaat matamu menangkapku, semua ini bagaikan ilusi. Aku lupa diri. Lupa caranya bernapas dan berjalan. Kau memaksaku untuk menghentikan waktu, namun aku tak bisa.

Setiap helaan napas yang kukeluarkan bagaikan detik waktu yang terbuang percuma. Aku tahu harus memanfaatkan momen ini sebaik mungkin. Namun kenyataan bahwa aku hanyalah pria pecundang akan membuatmu kecewa denganku.

Sehingga aku memilih diam. Tidak berusaha memperjuangkanmu.

"Sebentar," ucapnya.

Aku memperhatikan tingkahmu. Kau masih mempesona seperti biasanya meski senyuman di wajahmu mulai berkurang. Sesuatu membebanimu, membuat lipatan di sekitar dahimu.

"No, i'm fine," ucapmu.

Kau sedang berbicara dengan orang lain dan membelakangiku. Aku terus membayangkan banyak hal tentangmu selagi menunggu kau selesai berbicara.

Mengapa aku harus bertemu denganmu?

Kau kembali melihatku. Tanganmu merangkulku seolah perasaan ini hanya tumbuh kepadaku saja. Kita berjalan lagi dan aku masih menahan rasa gugup ini sendirian. Kau nampak begitu nyaman di dekatku. Meski mengetahuinya membuatku senang, aku tidak bisa mengontrol perasaanku. 

Kau mengeluh dengan masalahmu. Wajahmu semakin murung seiring dengan keluhanmu. Hentikan, kumohon. Meski aku tidak bisa memilikimu, yang kubutuhkan kali ini hanyalah senyuman.

Aku harus memastikan bahwa kau berbahagia sebelum aku menghilang dari kehidupanmu.

Lalu kita bertemu dengan pria yang mengembalikan senyumanmu. Aku memperhatikan bagaimana kau dan dia bertatapan satu sama lain. Ah, seharusnya aku segera pergi dari sini. Aku tidak tahan melihat pemandangan ini. Melihatmu, apalagi.

"Join us," ucap pria itu.

Aku tersenyum palsu. Kalau saja seseorang mengetahui apa yang dibalik pikiranku sekarang, mungkin dia akan begitu muak denganku.

Meskipun aku sangat membenci situasi ini, aku memilih untuk bergabung dengan kalian. Setidaknya aku bisa memperhatikanmu lebih lama lagi, pikirku. Rasa candu ini membuatku cukup gila hingga rela melakukan apapun demi melihat sosokmu. Bahkan bersedia menjadi orang ketiga yang mengganggu kemesraan kalian.

Kalau pada akhirnya aku tidak bisa melepasmu, apa yang harus kulakukan?

Selagi kalian berbicara dan bertukar canda, aku larut dalam pemikiran sendiri. Berjalan sambil berpegangan tangan, kau menyandarkan kepalamu di bahunya, dan aku harus menerima pemandangan ini.

Kau tidak akan bisa kumiliki, namun mengapa aku masih bisa merasakan secercah kebahagian disini?

Kemudian, sesuatu menyambarku. Pemikiran bodoh itu. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah terbenak. Aku membenci sekaligus menyukai ide tersebut.

Mungkin mulai sekarang aku tidak akan pernah menghapus status adik ipar yang akan kumiliki.


Melalui status tersebut, aku bisa memuaskan kerinduanku kapanpun yang kumau. Aku bisa berada di sampingmu tanpa khawatir. Aku bisa melakukan apa saja meski itu berarti kau tidak akan pernah membalas perasaan ini.


Persetan dengan perasaanku. Selama aku masih bisa menikmatimu dari dekat, aku tidak peduli.

"Which one do you prefer?" Kau menanyakan pilihanku untuk gaun yang akan kau kenakan. Kebahagiaan itu masih ada rupanya. Disaat kau menyadari keberadaanku ini bukan hanya sekedar bayang-bayang.

"That rose gold one," jawabku.

Kau memelukku saat mendengar jawabanku. "Kau benar-benar mengenalku dengan baik," ucapmu. Rupanya kau sedang berselisih mengenai pilihan warna untuk gaunnya nanti.

Kakakku, ya, pria itu, dia hanya duduk diam dan membiarkanmu mengatur pernikahan. Untuk sekian kalinya aku bertanya-tanya mengapa aku harus ikut kalian. Tetapi setiap aku melihatmu, jawaban itu datang.

I'm addicted to your presence.

Walaupun kau tidak melihatku seperti aku kepadamu, meski aku tahu kau tidak akan menyukaiku. Aku tetap ingin bersamamu selamanya.

Sehari sebelum hari pernikahan, seluruh keluarga besarku datang termasuk sepupuku, Molly. Molly adalah salah satu yang terdekat sekaligus sahabat baikku.

"Hentikan melihatnya seperti kau masih memiliki harapan," ucapnya saat melihatku di pinggir hall.

Aku hampir tidak menyadarinya karena terlalu fokus menonton gladi resik pernikahanmu. Kau begitu cantik dengan gaun yang sama seperti kutunjuk pada itu. Apapun yang kau kenakan selalu tampak cantik bagiku.

Aku hanya tersenyum menanggapi Molly.

"Kau memiliki segalanya, ketampanan, harta, kau juga pintar dan berkharisma. Posturmu sudah sempurna, wajahmu tegas dan..."

"Molly," aku tidak tahan mendengarnya tanpa menahan tawa.

"Dari sekian banyak wanita yang jauh lebih sempurna dibandingkan Miranda, mengapa kau malah menyakiti dirimu sendiri?"

"Molly," panggilku lagi. Meskipun aku bisa memutar waktu dan memilih tidak menyukaimu, aku tidak akan melakukannya.

"I love her with all my heart," jawabku.

"So?"

Aku melihat Molly yang nampak tidak mengerti. "With all my heart, yang berarti kalau aku melepasnya, there's nothing left in me,"

Aku tersenyum pahit. Molly tidak menyukai jawabanku sepertinya.

"You pathetic fool. You're supposed to be strong and move on," kau tidak nampak kuat seperti kelihatannya, benak Molly dari sorot matanya.

"I'm happy enough, Molly," alih-alih tersenyum, aku malah menghela napasku.

Kau dan kakakku sedang mengatur acara untuk besok diatas panggung. Saat melihatku dekat pintu keluar, kau tersenyum dan perasaan itu datang kembali. Rasanya persis seperti seorang pecandu narkoba yang baru memakan pil ekstasi setelah lama tidak mengonsumsinya. Lega dan bahagia dibalik semu. Ya, seperti itu.

"Stop it," ujar Molly. "Hentikan tatapan itu," kau benar-benar menyedihkan, benaknya lagi.

"Bagaimana aku bisa menghentikan semua ini kalau pada kenyataannya aku harus menjadi adik iparnya, Molly?"

Menjauh dari keluarga besarku? Menyendiri di negara lain?

Aku sudah memikirkan banyak hal, cara untuk menghilangkan perasaan ini. Menghilang dan membiarkanku tidak di dekatmu lagi bukanlah cara yang tepat. Mengosongkan hatiku sama saja bertahan hidup tanpa ruh.

"I hope you'll find your own happiness," ucapnya sambil melangkah pergi.

My own happiness?

Apakah ada kebahagiaan lain yang bisa kumiliki selain berada di dekatmu?

Malam harinya, beberapa jam sebelum pernikahan berlangsung, diadakan pesta kecil-kecilan khusus untuk keluarga terdekat saja. Aku datang dengan penampilan terbaikku. Untuk menghadapmu, tentu saja.

"You're really handsome tonight," ujarmu saat melihatku.

Aku tersenyum puas. Upayaku akhirnya terbayar sempurna. Aku begitu mengharapkan kata-kata itu dari mulutmu. Kau, dengan cocktail dress berwarna pastel yang sama cantiknya seperti dirimu.

"Thanks," balasku. Kupikir dengan ketampananku yang melebihi kakakku sendiri, aku masih tidak bisa merebutmu darinya, bukan?

Kau merangkulku dan membawa ke tengah-tengah. Semakin lama aku merasa kau tahu sejak lama bahwa aku menyukaimu. Kau memanfaatkanku. Mengetahui aku akan melakukan apapun untukmu, kau terus menyeretku menuju duniamu.

Kalau hanya dengan tatapanmu aku kembali jatuh cinta, kini kau merangkulkan kedua tanganmu ke leherku dan mengajak berdansa. Lagu ballad yang sedang dimainkan membawa suasana romantis sehingga membuatku tidak tahan untuk menyentuhmu juga. Senyumanmu terus melebar dan nampak luar biasa bahagia. Di atas lantai dansa ini, lagi-lagi aku merasakan getaran seperti kali pertama aku melihatmu.

Apakah kebahagiaan rasanya seperti ini?


"I'm thankful for having a dear friend like you," kau berbisik kepadaku. "For bringing Anderson to my life," kau terus berbicara kepadaku seolah aku tidak menyadari perasaanku.


Kalau aku berkata mengenalkan Anderson adalah penyesalan terbesarku, apa yang harus kulakukan?

"Harrison, kau tidak tahu betapa bahagianya aku bertemu denganmu,"

Pada saat kau memanggil namaku, aku tidak sanggup menahan diri lagi. Rasanya seakan surga dan neraka bercampur menjadi satu. Disaat amarah yang terus kubendung tertumpah oleh secercah kebahagiaan. Rasanya... berantakan.

Pada akhirnya aku hanya tersenyum dan berusaha menjauh darimu. Aku menghampiri Molly dan mencoba menahan ekspresi wajahku.

"Teach me how to stop this," pintaku.

Molly kelihatan sedikit terkejut, namun dia segera paham. "Go somewhere far and never go back again," balasnya.

Aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Hanya Molly satu-satunya untuk berbagi. Aku butuh melepaskan diri dari racun ini. Seluruh tubuh dan pikiranku sudah digerogoti olehnya dan aku tahu itu adalah hal buruk. Tetapi aku takut, apa yang harus kulakukan saat aku merindukanmu nantinya.

"Bagaimana kalau setelah bertahun-tahun kepergianku, aku jatuh cinta kembali setelah melihatnya?"

"Kalau begitu jangan pernah bertemu selamanya," ujar Molly. Dia menatapku lalu berkata lagi, "Kau bisa menangis di depanku, tidak ada siapapun yang melihat," aku tidak yakin apakah dia dapat melihatnya hanya dari raut wajahku.

 Apakah kau masih menganggapku pria kalau aku akhirnya menitikkan air mata karenamu?


Akhirnya pintu menuju neraka tiba. Di hari pernikahannya, aku terpaksa harus berdiri di deretan terdepan dan memasang senyuman di wajahku. Setelah pembicaraan kita semalam, aku belum menyapamu sama sekali dan kau juga terlihat sibuk dan melupakanku.


Bagaimana cara menyimpan perasaanku kepadamu tanpa mengutarakannya kepadamu, selamanya?

Kalau ada penderitaan yang dapat kutukar selain penyiksaan ini, aku rela. Jangan biarkan aku berada di tempat ini dan menyaksikanmu secara resmi dimiliki oleh kakakku sendiri. Kumohon, karena pada akhirnya aku sadar bahwa aku tidak sekuat yang kubayangkan.

"Kau mau kemana?" tanya Molly disaat beberapa menit sebelum prosesi dimulai, aku berusaha meninggalkan tempat.

"Aku tidak bisa, Molly," kumohon, biarkan aku pergi kali ini. "Beri ucapan selamatku kepada mereka. I'll go as you said,"

Molly melihatku dari atas hingga ke bawah. "Good luck,"

Ya, good luck.


Untuk upaya melupakanmu meski aku tahu tidak akan pernah bisa.


Untuk membiarkan kesepian ini semakin berlarut.

Untuk meneruskan hidupku tanpa keberadaanmu di sisiku.

Miranda, sejak awal aku mengenalmu, kau selalu ceria dan bersemangat. Kau menampakkan dirimu bagaikan cahaya yang menyilaukan mata. Aku tidak tahu mengapa kau tidak bisa melihatku sejak aku menunjukkan ketertarikan kepadamu. Tidak ada pria yang selalu menyempatkan waktunya menemuimu kapanpun dan dimanapun demi mendengarkan keluh kesahmu kalau dia tidak menyukaimu. Meski dengan bertemu denganmu membuatku bahagia, kau memaksaku untuk selalu serakah. Aku tidak tahu apakah kau membimbingku ke langkah yang lebih baik atau justru ke lubang yang dalam. Yang jelas, mulai sekarang, aku menyerah. Aku akan pergi sekarang.

Dan akhirnya kita berdua berjalan ke arah yang saling berlawanan...

-end-

Thursday, 1 October 2015

[Collection] The Best Hug

“ That was so gross, stop it Gere !” aku menutup mataku.

Gerald menjulurkan lidahnya, dan kembali mengunyah permen karet tersebut. “ This tastes good, this feels really you,” ujarnya.

Gerald baru saja memakan permen karet yang baru kukunyah. Awalnya aku hanya bercanda menyuruhnya memakan permen karet bekas itu. Dan dia sungguh berani melakukannya.

“ You asked it, Sara,” tambahnya.

“ I was joking,”

“ Tetapi kau selalu tahu bahwa aku selalu melakukan apapun yang kau mau, even if it takes many risks to myself,”

“ Stop it,” pintaku, dan Gerald benar-benar langsung melepeh permen karet tersebut.

Aku tertawa. Gerald tertawa. Aku memukul tepat di dada Gerald yang sudah terasa sangat bidang hingga pukulanku pasti tidak akan terasa apa-apa bagi pria tersebut.


He is the best badass-friend I ever had… Batinku.

Monday, 28 September 2015

[Continuous] New Season (Part 6)

Akhirnya aku mengetahui apa yang salah.  Bahkan rasanya aku ingin tertawa saat menyadari betapa bodohnya yang kulakukan.

"What are you laughing at?" Tanyanya.

Rupanya aku tidak sanggup menahan tawaku dan menunjukkannya.

"Have i told you that you're the biggest mistake that i ever had?"

Aku memang mengharapkan respon seperti yang baru saja Daniel lakukan. Dia mengerutkan dahinya dan berkata,

"Apa maksudmu?" Tanyanya.

"Forget it," ucapku. "I need to clear my head," aku berjalan masuk ke kamar.

"Wait, Ashley," panggilnya. "Aku mendengar dengan jelas kau berkata bahwa aku adalah kesalahan terbesarmu,"

"It's good, then," balasku acuh. "Berarti pendengaranmu masih berfungsi dengan baik," aku berjalan lagi menuju kamarku.

Namun Daniel menarik tanganku yang sudah menggapai pintu kamar.

"Semuanya baik-baik saja sebelum keberangkatanku," dia menjawabku dengan nada yang agak tinggi. Aku bisa merasa dia mulai merasa kesal.

Cengkeramannya benar-benar membuatku tidak bisa bergerak. Dia menggunakan kekuatannya dan seperti mengeluarkan amarahnya sekarang.

"Tidak seharusnya aku pergi ke London. Semuanya salah, tetapi aku tidak pernah menyalahkanmu, tidak menyalahkan apapun. Bagaimana bisa kau berkata bahwa aku adalah kesalahan terbesarmu?"

Hari ini bukanlah waktu yang tepat untuk berbicara. Seluruh otakku sudah lelah, begitupun dengan badanku.

"Kau. Sejak awal kau tidak seharusnya..." mulutku terkunci.

Apa yang mau kau katakan, Ashley?

"Lupakan, kumohon," pintaku.

"Tidak, lanjutkan," Daniel menahanku yang ingin melepas cengkeramannya.

Berkali-kali aku mencoba membalasnya, kekuatan Daniel sama sekali tidak setara denganku. Dan walaupun dia tahu aku sama sekali tidak nyaman dengan cengkeramannya, Daniel sama sekali tidak melepasku.

"It hurts," ucapku lirih.

"Aku tidak akan melepasmu sampai kau menjawabku. Aku seharusnya tidak apa?"

"Kau seharusnya tidak membuatku menyukaimu!" Balasku memaki. "Kau puas? Sekarang lepaskan aku!"

Daniel akhirnya melepaskan tangannya. Aku kembali membuka pintu kamarku dan bergegas ke kamar mandi.

Tetapi Daniel tiba-tiba menarik tanganku hingga tubuhku ikut tertarik. Dia merangkulku, dan menciumku.

Yes, he just kissed me.

Apakah dia sedang mencoba mencari tahu apakah aku masih menyukainya?

Dengan bodohnya, aku tidak menarik diriku dan malah mengikuti kemauannya.

Tetapi akhirnya aku mengerti sesuatu.

My heart is still yearning for him...

"This isn't right," ucapku. Aku teringat akan Jared dan akhirnya mampu menarik diriku menjauh. "I have Jared now," balasku.

"Kau masih tidak mengerti apa yang kau inginkan?"

"I want you to stop seeing me," jawabku.

"Tidak, tidak akan. Aku tidak akan pernah mempercayai ucapanmu setelah aku mendapatkan jawaban darimu tadi,"

Jawaban apa?

"Please, Dan. I have boyfriend now. You should leave," pintaku.

"Break up with him,"

"No way,"

Aku tidak pernah berpikir untuk memutuskan hubunganku dengan Jared. Bagaimanapun juga, dia adalah atasanku. Kalau kata putus itu datang dari mulutku, apa yang harus kulakukan saat menghadapnya nanti. Mungkin kalau dia yang memutuskanku terlebih dahulu, keadaan akan lebih mudah.

"Lalu?"

Stay. Aku menginginkanmu, bodoh.

[One Shot] That Rainy Day, That Sunny Day...

The first time I met you, it was raining. 

You stood near the window and looked at the sky.

And it simply became my favorite view. 

Your back, 

The way you put your hands inside the pockets,

The firmness of your jaw line,

And even your shadow,

Everything was perfect to me.

"Thea!"

Aku melamun rupanya. Berjalan melewati jendela itu membuatku mengingatmu lagi. Hujan di luar sana membuatku terus membayangkan hari itu. 

Ya, suatu hari di musim yang dingin dan lembab.

"What are you doing there?" tanya Wendy dari kejauhan.

"Hmm...? Nothing," aku berlari menghampirinya. Sekali lagi, mataku melirik jendela itu dan tersenyum. Aku masih bisa merasakan kehadiranmu, di dalam ingatanku. Ah, seharusnya aku tidak boleh larut dalam perasaan ini. Semua ini kembali datang tanpa kusadari, bahkan ketika aku menyibukkan diriku sendiri dengan hal lain.

"Ah... sial! Aku lupa membawa payung!" ucap Wendy panik. Aku memperhatikannya yang masih kebingungan. Dia harus buru-buru pergi mendatangi ujian di tempat kursusnya.

"Here, use mine," aku menyerahkan payungku. Aku tidak terburu-buru untuk pulang dan lagipula menunggu hingga hujan reda bukan masalah bagiku.

"Thanks, Thea," Wendy langsung pergi dan menggunakan payungku.

Aku memperhatikan hujan yang tidak nampak reda. Sepertinya aku akan menunggu cukup lama kali ini. Karena aku pulang lebih lama karena ada kelas tambahan khusus, sekolah sudah terlihat sepi. Hanya ada aku sendiri terduduk di dekat pintu sekolah.

And then you come, again, approaching me, for real.

Tuesday, 1 September 2015

[Collection] Isn't She Lovely

Matahari saat itu hendak tenggelam… Saat aku pertama kali melihatmu…

Aku berhenti dari sepedaku saat melewati jalanan di pinggir pantai Asarella. Aku memarkirkan sepedaku di dekat pembatas jalan, dan menepi sebentar untuk menikmati fenomena sunset di pantai yang indah ini.

“ Ehm…” gumam seseorang yang tiba-tiba mendekatiku.

“ Aku masih baru disini, dan sedang mencari sebuah alamat, apakah kau bisa memberitahuku dimana alamat ini ?” tanyanya.

Aku memperhatikan gadis ini dari ujung rambut hingga kuku kakinya. Seorang gadis dengan mata bulat dan hitam bersinar, serta bibirnya yang bergelombang seperti ombak di lautan. Rambutnya hitam yang tergerai hingga melewati bahunya dan kulitnya yang putih pucat kelihatan begitu kontras sekali.

Hallway Street No. 232

Aku membuang mukaku dan menatap fenomena sunset yang hampir saja kulewatkan. Saat tahu aku mengabaikannya, dia memohon.

“ Oh… Ayolah… Kau satu-satunya orang yang kutemui sepanjang jalan ini,”

Aku merogoh notes di sakuku, dan mulai menulis,

Ada urusan apa kau di rumah itu ?

Aku menunjukkan tulisan tersebut kepadanya. Dia membaca, dan melihatku kebingungan.

“ Ada suatu keperluan. Mengapa kau bertanya seperti itu ?”

Aku memasukkan kembali notes tersebut dan melangkah untuk mengambil sepedaku. Saat aku sudah hendak duduk, aku melihat gadis itu dan menepuk tempat duduk belakang, maksudnya aku menawarkan tumpangan untuknya.

“ Kau mau mengantarku ? Terima kasih sekali,” ujarnya kegirangan

Aku mengayuh sepeda dengan sekuat tenaga, penumpangnya kini bertambah menjadi 2 orang. Tentu saja sebenarnya aku kesulitan dalam menjaga keseimbangan, apalagi mengayuhnya juga terasa lebih berat.

Akhirnya kami sampai di alamat yang dimaksudkan. Aku berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah.

“ Terima kasih banyak,” ucap gadis tersebut.

Gadis itu langsung memencet bel. “ Siapa ? Ada perlu apa ?’ tanya seseorang dari speaker. “ Namaku Scarlet, dan aku mencari seseorang yang bernama Carmen,” ujarnya. “ Baiklah, silahkan masuk,” jawab seseorang di seberang sana.

Pintu gerbang yang tadinya terkunci tiba-tiba terbuka sendiri. Aku masuk ke dalam rumah tersebut. Dan gadis yang bernama Scarlet itu menghadangku.

“ Mengapa kau ikut masuk ? Aku sudah berterima kasih kau mau mengantarku sampai sini, tidak perlu sampai menemaniku,”

Aku mengangkat sebelah alisku, menatapnya dengan aneh, lalu mengabaikannya dan tetap melangkah masuk.

Memangnya aku tidak boleh masuk ke dalam rumahku sendiri ?

Monday, 31 August 2015

[One Shot] Bound and Beyond

Don't worry, little girl,

Every pain is also another description of pleasure,

You and I here,

We are destined to be together,

To share both pleasure and pain,

Here...

Aku masih mengingat jelas apa yang Ravi bisikkan kepadaku, bagaimana dia mampu menenangkan diriku saat terjebak ke dalam sebuah lubang hitam tanpa ketakutan. Aku memperhatikan bukti-bukti yang masih berserakan dan bahkan menempel seolah hatiku sudah bebas dan tidak lagi menjerit.

I'm free.

Ravi membuka mataku. Disaat aku berada diatas, lubang hitam ini nampak begitu kelam dan mencekam. Sesaat setelah dia mendorongku dan jatuh ke dalamnya, lubang itu terasa lebih bercahaya dibandingkan diatas sana. Hanya kata terima kasih tidak akan pernah cukup menunjukkan apa yang kurasakan sekarang.

"Morning, cupcakes," sapanya. "You look very energetic," dia memperhatikanku dari atas hingga bawah.

Dia mengejekku. Siapapun yang baru saja terjatuh akan merasa sangat lemah, setidaknya sakitnya masih membekas.

Hari pertama setelah aku terjatuh, dan rasanya hidupku sudah tepat seperti yin-yang. Otakku memiliki dua sisi, dan keduanya bekerja penuh tidak seperti sebelumnya. Melamun adalah sesuatu yang tidak pernah kulakukan dan kini hampir di siang hari kuhabiskan dengan membayangkan cara-cara terjatuh lagi.

Ini adalah masa dimana adrenalinku bekerja tanpa henti. Expectation turns to either enthusiasm or fear. Semua hal yang dibayangkan seolah butuh direalisasikan segera.

Aku tidak tahu sejak kapan ketertarikan ini berawal, apakah tepat disaat aku terjatuh atau tanpa kusadari aku memang selalu menginginkannya. Setiap kali matahari bergantung di langit, aku menunggu dia tertidur pulas. Setiap mata yang memandangiku di siang hari, aku berharap ketika tidak akan ada mata yang berusaha menghakimi lagi.

Malam selalu menjadi waktu dimana keinginan diwujudkan. Suara deruman mobil yang menanti untuk terparkir di garasi, suara gelas-gelas yang bertabrakan di bar dan terbiasa mendengar curhatan suka maupun duka, dan, suara decitan selimut yang terentang diatas kasur.

Tetapi malam bagiku adalah waktu yang tepat untuk terjatuh, lebih dalam, lagi.

Ravi tersenyum saat melihatku, seakan tahu bahwa aku akan kembali. Aku ingin berteriak memberitahunya bahwa kini aku bebas, dan dia adalah yang membebaskanku. Baik hari ini hingga hari berikutnya, temani aku dalam kebebasan itu. Ah, bicara apa aku.

Mulai saat ini permainan baru dimulai. Aku adalah pemain baru dengan tingkat budak yang mencoba berguru dengan sang penguasa. Banyak hal yang masih tidak kuketahui, namun dengan senang hati akan kupelajari.

Safe doesn't exist, nor exit.

Aku mengangguk kepada Ravi. Disaat aku sudah memutuskan untuk kembali terjun kedalam lubang yang lebih dalam lagi, tidak akan pernah ada tangga yang mengantarku kembali. "Georgina..." dia memberikan aba-aba.

Caranya menuntunku seperti Adolf Hitler dengan penuturan Dalai Lama. Wawasannya seperti Albert Einstein dengan sikap Mahatma Gandhi.

Sampai kau tidak bisa menjelaskan apa yang kau rasakan, aku tidak akan membiarkanmu pergi, katanya.

Georgina, sejak awal kau tahu kau tidak hanya sekedar akuntan biasa.
You are beyond that.
You are not bounded by anything.
You deserved life to be adventurous.
Get out of your boring life and get rid of your principle.
Your day can be filled with your forever ambition, but your night is the time to reveal who you really are.

A cutesy rabbit, a pampered cat, a majestic peacock, or even a sly snake.

-end-