Thursday, 13 August 2015

[One Shot] Knockin' on Heaven's Door

Pernahkah kau memikirkan seorang pria? Dia berjalan mendekatimu dengan senyuman yang tersimpul manis. Pria itu, mengenakan tuxedo yang rapi dengan sebuah corsage di tangannya. Seolah dia hendak mengajakmu pergi ke suatu tempat yang romantis sambil memberikan corsage tersebut untukmu. Kau hanya bisa membalas senyumannya dan berterima kasih dalam hati. Kau terus bersyukur tanpa henti setiap kali bersamanya.

It feels like knocking on heaven's door.

Dia bagaikan sebuah fantasi seluruh wanita, bagaimana bisa seseorang yang begitu sempurna bisa datang di kehidupanmu? Kau sendiri masih tidak habis pikir namun tak pernah ingin menghentikannya.

Sampai akhirnya matamu terbuka kembali dan menyadari bahwa semua itu hanyalah mimpi, kau sadar hidupmu tidak pernah terlalu beruntung seperti impianmu. Pria seperti itu bahkan tidak pernah ada, apalagi bertemu dan jatuh cinta kepadamu.

Tetapi semua itu terasa nyata bagiku. Percaya atau tidak, dia hadir dalam kehidupanku.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanyanya sambil mendekatkan dirinya kepada tubuhku.

Aku mengenakan sweater oranye hangat, syal serta topi dengan warna senada, sedangkan dia hanya sebuah blouse biru muda dan nampak kedinginan.

"Hanya membaca," aku mengambil secangkir teh yang baru saja dia bawa dan diletakkan di meja. Ah... hangat sekali. Aku menyentuh permukaan cangkir tersebut dan mendekatkannya di pipiku.

Dia nampak hendak bermanja-manja kepadaku. "Memangnya kau tidak ada urusan lain?" Tanyaku.

Dia hanya menggeleng. "Memangnya aku tidak boleh menikmatimu saja seharian?"

Pria ini... aku tidak tahu mengapa bisa sekali pipiku memerah hanya karena rayuan murahan seperti itu.

Aku menghabiskan sekitar 3 hari 2 malam di sebuah resor dekat sebuah pegunungan dengannya. Aku tidak terlalu ingat apakah ini ideku atau idenya, namun liburan singkat ini benar-benar tidak bisa kulupakan. Walau aku hanya tinggal di sebuah villa tanpa keluar sama sekali, tetapi menghabiskan waktu dengan seseorang yang dicintai memang tidak akan pernah membosankan.

Setelah liburan itu selesai, aku kembali ke rutinitas yang penat dan melelahkan seperti biasanya. Aku bisa melihat kakakku berada di rumahku dengan pandangan penuh khawatir. Dia menatapku dalam-dalam sambil menanyaiku.

"Kau pergi bersama Louis lagi?" Tanyanya.

Aku jelas mengangguk, dan dia nampak semakin khawatir.

"Lois, dia tidak nyata," ucap kakakku.

Apa yang dia bicarakan sebenarnya? Bagaimana bisa dia berkata bahwa Louis tidak nyata?

"Aku mengecek semuanya, Lois. Tidak pernah ada seorang pengusaha batu bara bernama Louis Bane di mana-mana. Bahkan aku tidak menemukan seorangpun yang mengenalnya di industri batu bara. Aku sudah mencari tahu semuanya tetapi kenyataannya pria itu tidak ada,"

Aku masih diam dan tidak mengerti apa maksudnya.

"Dia hanya imajinasimu saja, Lois,"

Dengan seketika, aku begitu marah saat dia menuduhku berbohong dengan keberadaan Louis. Tidak mungkin Louis tidak nyata, jelas sekali aku bisa merasakan sentuhannya dan kehangatannya yang belum pudar di ingatanku.

"Kita bisa memperbaiki ini. Aku punya kenalan seorang psikiater dan menurutnya hal yang terjadi padamu bukanlah kasus yang pertama,"

"Kau pikir aku sudah gila, kak?"

Kak Mel menatapku. "Kalau begitu, pertemukan aku dengannya,"

"Tidak perlu, aku bisa mengantarmu ke resor kami tadi,"

Kak Mel begitu keras hati dan menantangku untuk pergi ke sana. Akhirnya aku terpaksa kembali ke rute jalan yang baru saja kulewati beberapa menit yang lalu.

Di resor itu, aku bertanya kepada resepsionis tersebut apakah dia masih mengingatku. Dia tersenyum dan mengaku masih mengingatku yang baru saja check out. Ketika aku bertanya apakah dia melihat seorang pria yang terus bersamaku, dia nampak bingung.

"Saya tidak ingat anda bersama seorang pria,"

Aku kesal. Sepertinya resepsionis ini tidak memerhatikan keberadaan Louis karena kondisi hotel sedang cukup penuh waktu itu.

Selama di resor, 2 orang pria di bagian housekeeping selalu merapikan ruanganku. Aku tidak terlalu mengingat nama mereka, tetapi berdasarkan resepsionis tersebut, dia sudah memanggil petugas yang menangani ruanganku.

Saat melihat mereka berdua, aku yakin mereka adalah yang kumaksud. Bahkan mereka juga mengaku masih mengingatku saat bertemu.

"Kami tidak terlalu memperhatikan ruang tamu karena anda berada di sana selagi kami bekerja,"

Jawab mereka saat aku bertanya apakah mereka melihat pria yang bersamaku waktu itu. Lalu aku bertanya lagi dan jawaban mereka membuatku pusing bukan main.

"Sepertinya kami tidak merasa anda bersama orang lain,"

Tetapi aku sangat yakin Louis nyata, bagaimana bisa aku berimajinasi dengan begitu detil hingga mampu menghidupkannya sampai menyentuhku. Kak Mel nampak sudah bosan saat aku hendak bertanya ke seluruh petugas hotel dan hasilnya nihil.

"CCTV," ucapku. Ah, benar! Pasti Louis terekam di lobby hotel dengan jelas.

"Mohon maaf, selama seminggu ini CCTV di lobby kami sedang bermasalah dan tidak menyala dari kemarin,"

Kak Mel menarikku yang hampir memarah-marahi pihak hotel karena CCTV adalah satu-satunya peluangku untuk membuktikan bahwa aku tidak gila. Dia menyuruhku untuk menelepon Louis saat ini juga kalau dia memang nyata.

Aku meneleponnya, namun ponselnya tidak aktif. Aku ingat bahwa dia berkata dia akan melakukan ekspedisi di sebuah hutan yang masih terisolasi jadi menghubunginya sia-sia saja.

"Setidaknya satu foto saja kau tidak punya?" Tanya Kak Mel.

Aku tidak pernah berfoto dengan Louis karena setiap waktu yang kuhabiskan dengannya terasa tidak cukup dan berfoto dengannya terasa tidak perlu lagi karena dia selalu ada di sampingku selama itu.

Kak Mel terus menarikku dan memaksa pergi ke psikiater dan aku terus menolak. Aku tidak gila. Louis pasti nyata, hanya saja aku belum bisa membuktikannya.

"1 minggu, beri aku waktu 1 minggu setelah Louis kembali, aku pasti akan membawanya kepadamu,"

Kak Mel cukup bimbang namun dia memilih untuk bersabar. Dia benar-benar memberiku waktu tepat 1 minggu. Apabila aku tidak bisa menunjukkan bahwa aku tidak sedang berkencan dengan khayalanku sendiri, aku harus bersedia mendatangi psikiater.

Hampir setiap hari aku mencoba menelepon Louis. Aku juga kembali mendatangi tempat-tempat yang pernah kudatangi bersama Louis dan hasilnya nihil. Tidak ada yang ingat aku datang bersama seseorang. Selama itu aku mulai meragukan apakah Louis benar-benar hanya imajinasiku saja atau dia memang nyata. Aku tidak pernah menemui seorangpun yang menyadari kehadiran Louis. Harapanku hanyalah Louis kembali dari ekspedisinya secepat mungkin.

"Lois, ada apa?"

Suatu pagi aku hendak menangis tidak karuan saat akhirnya Louis mendatangi rumahku dengan sebuah coat menggantung di tangannya. Aku memeluknya dan yakin bahwa ini bukan khayalan semata.

"Are you real?" Tanyaku.

Louis menatapku aneh. "Apa maksudmu?"

Aku menjelaskan bagaimana aku berusaha membuktikan keberadaannya kepada Louis dan dia hanya diam. Aku merasa bingung mengapa dia hanya diam, seharusnya dia tertawa mendengarnya.

"Kau harus bertemu dengan Kak Mel dan membuktikan bahwa aku tidak gila,"

"Aku tidak bisa, Lois," elaknya.

"Lou, ada apa?"

"I'm not real," jawabnya. Ucapannya tidak bisa kumengerti.

"What do you mean? You're real, i can touch you, i can see you,"

"Apakah kau tidak menyadarinya? Hanya kau yang bisa melihatku,"

Tidak... Ini tidak mungkin...

"Kau pikir imajinasiku bisa membuatmu senyata ini? Aku bisa menghidupkanmu secara detil seperti ini? Kau terlalu nyata untuk bisa menjadi imajinasi, Louis,"

"Apakah kau pikir sosok sepertiku bisa hadir di dunia nyata, baik penampilan hingga karakterku, apakah pria sepertiku bisa kau temui dengan mudah? Kalaupun kau bisa menemukannya, apakah pria itu mau mencintaimu seperti aku kepadamu? Apakah kau merasa kau cukup spesial untuk seorang pria hebat? Apakah kau pikir kau mampu menarik hati pria itu?"

Mengapa kau tidak pernah menyadarinya, Lois?

"Hentikan," pintaku.

"Kau tidak pernah menyukai dirimu sendiri tetapi kau berharap seseorang bisa mencintaimu? Kau pikir kau seorang supermodel? Aktris terkenal? Kau selalu menganggap rendah orang lain tetapi kau lebih merendahkan dirimu dibawah siapapun. Apa kau masih belum menyadari bahwa aku tidak akan mungkin bisa hadir di kehidupanmu secara nyata?"

"Hentikan!" Bentakku.

Louis berdiri di sana, dan aku menamparnya.

"You just slapped yourself," ucapnya. "Kau tidak pernah mau menerima kenyataan bahwa kau terus bermimpi tanpa pernah berusaha,"

"Hentikan, kubilang!" Aku menjerit dalam hati. Kalau ini hanya mimpi, aku ingin segera terbangun.

Pada saat mataku terbuka, aku bisa melihat diriku terbaring di sebuah kursi panjang. Seseorang dengan jubah putih duduk di seberangku. Dr. Ellis, namanya tertulis di sebuah nametag dekat sakunya.

"Sekarang, jawab aku, Lois," ucap Dr. Ellis. "Dimana Louis?"

Aku menitikkan air mata tanpa kusadari. Setelah membuka mata, aku tahu bahwa aku tidak berhasil membuktikannya kepada Kak Mel dan dengan pasrah aku bersedia mendatangi seorang psikiater. Entah apa yang telah dilakukan dokter ini hingga aku bisa mengucapkannya dengan jelas,

"He's not real,"

Saturday, 8 August 2015

[One Shot] ADELIA

There is nothing here than darkness.

When you look into me, there is nothing. My world means nothing to me, so does my life. Having a great job with a good salary, a great wife with the best cooking skill, 

But what is the reason of living?

Candice sedang berbicara kepadaku selagi menyiapkan buah untuk makan malamku. Aku duduk terdiam dan tidak sekalipun mendengarnya, tidak juga melakukan hal lain.

"Tyson?"

Aku menengoknya dan memintanya mengulang apa yang diucapkannya.

"Kau tidak mendengarku? Kau dan aku diundang ke housewarming party keluarga Laurent, 3 blok dari sini. Mereka baru pindah ke daerah sini,"

Aku tidak menjawab ya, ataupun menolaknya. Kenyataan bahwa meskipun aku menolaknya, Candice pasti akan semakin rewel dan berakhir sesuai keinginannya.

Tersenyum, bodoh. Hanya sedikit senyuman untuk istrimu sendiri saja, apakah begitu sulit?

Besok malamnya, Candice sudah menyiapkan setelan yang pas untukku dengan warna senada dengan dress yang dikenakannya. Aku mengenakannya masih dengan diam dan tanpa mengeluh sama sekali meskipun dia tahu aku tidak suka sekali saat kami sepakat memakai pakaian senada.

"You must be Mr. Weltz,"

Seorang pria dengan tinggi tidak terlalu berbeda denganku menawarkan jabatan tangan. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Markus Laurent, sang warga baru di lingkungan ini. Dia hanya tinggal berdua dengan istrinya. Dia langsung memanggil sang istri untuk diperkenalkan kepada aku dan Candice.

"Perkenalkan, ini Adelia, istriku,"

I see her eyes, and i know it well. She is that woman.

Adelia menatapku dan tidak mampu menahan keterkejutannya. Dia mencoba menutupinya dengan tersenyum dan memperkenalkan dirinya. Adelia adalah wanita itu. Dia adalah wanita yang 4 bulan lalu kutemui.

Aku masih ingat jelas bagaimana pertemuan kami selama 1 minggu yang singkat dan perpisahan itu. Kali pertama kami bertemu adalah ketika aku sedang mengikuti training dari perusahaanku yang dia juga merupakan salah satu pesertanya.

"We met again,"

Aku mendekatinya yang sedang mengambil minuman. Candice sedang menemui tetangga lainnya dan akhirnya aku mencoba berbicara dengan Adelia.

Dia tampak tidak nyaman untuk berbicara denganku. Matanya menatap ke semua arah selain ke mataku.

"Kau tidak berkata bahwa kau sudah menikah,"

"Kau juga tidak mengatakannya,"

Aku dan Adelia akhirnya saling bertatapan. Sejenak, aku mengulang kembali seluruh peristiwa itu. Mungkin pada waktu itu, aku mulai menemukan setitik cerah alasan untukku agar tetap hidup. Aku akhirnya menemukan cara untuk menikmati hidup.

"Kau bilang kalau kita secara tidak sengaja bertemu lagi-,"

"Tyson, i'm married,"

Adelia langsung meninggalkanku yang tidak sempat menyelesaikan omonganku. Dia berjalan menjauhiku dan tidak sekalipun berniat menoleh ke belakang. Dia tahu, ucapannya pada saat perpisahan itu.

Suatu saat, ketika kita tidak sengaja bertemu lagi di lain kesempatan, mungkin pada saat itu adalah pertanda kita dipertemukan untuk bersama. Adelia, kau yang berkata hal itu.

Nyatanya, kami berdua sudah menikah satu sama lain. Selama 1 minggu pertemuan kami, mengapa tidak ada satupun dari kami yang menunjukkan rasa bersalah itu? Untuk sesaat, aku lupa bahwa aku memiliki Candice.

Aku mulai mengingat dengan jelas memori kebersamaan kami. menyadari bahwa Adelia berada di hadapanku seolah-olah dia ditakdirkan untukku membuatku begitu takjub

"Kau kelihatan berbeda malam ini,"

Candice tiba-tiba berada di sampingku. Aku sebenarnya menahan panik. Sejak tadi aku memperhatikan Adelia kemanapun dia pergi. Walaupun Candice seharusnya tidak akan menyadarinya, tetap saja aku begitu panik.

"Kau nampak menikmati pestanya. Berbeda sekali dengan sebelumnya,"

Candice tidak mengetahui bagaimana aku bisa memasangkan senyum di wajahku cukup lama seperti sekarang ini.

"Mood-ku sedang baik,"

Aku menenggak cocktail yang berada di tanganku. Sepertinya aku terlalu mengekspos kebahagiaanku hari ini. Melihat Adelia kembali benar-benar menjadi kebahagiaanku yang utama.

Adelia, apakah kehidupanmu sama membosankannya sepertiku?

Friday, 7 August 2015

[Prologue] Redemption

"If you could describe him in 3 words, what would they be?"

"Unexpectedly luscious person.

Kau selalu tahu bagaimana aku melihat orang lain bagaikan sebuah boneka kapas. Mereka semua tidak pernah membangkitkan nafsuku, sampai akhirnya aku bertemu dengannya.

Kau tahu apa yang selalu kubayangkan setiap kali melihatnya?

Kematian.

Oh, sebuah akhir yang indah, seperti perpisahan dan air mata. Aku selalu penasaran bagaimana kalau belati menusuk tepat ke jantungnya.

Aku sangat tidak sabar melihatnya memejamkan mata sedangkan aku adalah orang terakhir yang dilihatnya. Dan dia memegang tanganku selagi aku terus memegang belati tersebut dan merasakan darah mulai mengucur dan membasahi tanganku.

So... irresistible."

*****

"If you could describe her in 3 words, what would they be?"

"Unconsciously Fragile Woman.

Aku selalu tahu ada yang salah darinya. Dia sama sekali berbeda dengan perempuan lain yang pernah kutemui. Sorot matanya yang tidak pernah nampak ragu bagaikan seorang sociopath, bahkan tingkah dan cara berpikirnya juga mirip psikopat. Semua orang pasti akan menganggapnya aneh.

Tetapi aku melihatnya sebagai seorang gadis yang rapuh. Dia butuh perhatian dan seseorang di sampingnya.

Aku bersedia.

Even if it takes my life as a bet."

*****

"Whitney, bangun,"

"Whitney, ini bukan dirimu,"

"Whitney,"

"Whitney,"

"Whit-,"

Dan suara itu menghilang. Sesaat kemudian aku mulai melupakan suara itu. Suara pria yang seharusnya kukenali dengan baik, namun aku malah mengabaikannya.

"Whitney," suara itu kembali, beserta sebuah pelukan.

Berbeda dengan sebelumnya, kini mataku dapat melihat bahwa aku sedang berjalan entah kemana tanpa mengenakan alas kaki sama sekali. Awalnya semua ini hanya alas putih, dan rupanya aku sudah terbangun lagi.

Dengan sebuah pisau dapur yang dipenuhi oleh darah.

Darah siapa ini? Apakah ini milik Mike? Tidak, dia tampak begitu sehat dan mengkhawatirkanku. Aku mendekatkan pisau itu ke bagian perutnya, berusaha mengelap bekas darah yang menempel di mata pisau.

Dan keinginan itu muncul kembali. Aku sangat menyukai pria ini sampai pada tahap bahwa aku menginginkan dia mendapatkan kebahagian yang hakiki.

Mereka bilang kematian hanyalah salah satu bentuk terlelap tidur dalam jangka lama. Kau akan mendapatkan ketenangan disana, sayang.

Dan, entah diantara sekian banyaknya keinginanku untuk membuatnya beristirahat dengan tenang, aku tidak bisa.

"Whitney, aku mencarimu dari tadi!"

Tubuhnya kini sedikit menjauh. Dia nampak cemas dan terlihat sekali dari sorot matanya. Hngg? Keinginan itu tiba-tiba menghilang. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku sempat berpikiran hal itu.

Mike mengambil pisau tersebut dari tanganku. "Darah siapa ini, Whitney?"

Mataku menatapnya, kosong. Melihatnya membuatku bertanya-tanya apa yang sedang ia pikirkan.

Sebelum aku mengucapkan sebuah nama, aku tersenyum. Tidak seharusnya Mike nampak panik seperti itu. Semuanya baik-baik saja.

Ia sudah pergi dengan bahagia, tentu saja.

-tbc-

Thursday, 30 July 2015

[One Shot] The Unsolved Case of Miriam Kohl

I think i've been followed by someone recently.

Kalau kau tidak mempercayainya, setidaknya tolong aku. Aku menulis surat ini sambil menahan tremor di seluruh badanku. Kau bahkan pasti bisa melihatnya dari tulisan tanganku yang penuh getaran.

Entah sejak kapan tetapi aku baru menyadarinya sekitar 3 hari yang lalu. Orang itu-seorang pria bermantel cokelat dan topi fedora usang dengan tinggi sekitar 180cm dan tubuh jangkung- selalu ada dimanapun aku pergi. Dia bahkan bermalam di seberang jalan rumahku setiap hari. Yang kutahu, aku selalu bisa menemukannya di kerumunan orang seolah dia begitu ingin diketahui.

Mungkin ini karena sebuah kasus pembunuhan berantai yang sempat menarik perhatianku dari data rahasia kepolisian?

Aku sempat mencoba memecahkan kasus tersebut sendirian-ya, pada saat itu aku sama sekali tidak memikirkan resikonya. Mengapa aku tidak bisa menyadari bahwa seluruh korbannya memiliki ciri yang sama sepertiku, rambut brunette dan bertubuh pendek?

Tetapi aku sepertinya belum sampai tahap mengetahui identitas sang pembunuh, lalu bagaimana bisa dia menentukan aku sebagai targetnya sebelumnya?

Kalau kau akhirnya menemukanku dengan tubuh terpisah menjadi 8 bagian dengan presisi potongan yang begitu sempurna, maka pembunuhku adalah orang yang sama dengan yang kalian cari pada kasus DD42.

Aku masih belum bisa mengetahui tujuan orang itu terus mengikutiku. Apakah dia hanya berusaha mengancamku tanpa berniat menyentuhku sama sekali, atau dia hanya sedang mencari waktu dan lokasi yang pas?

Salah seorang tetanggaku memberitahu bahwa ada seseorang yang menanyakan tentangku seolah-olah mereka polisi, tetapi aku tahu dia tidak berbicara dengan polisi. Aku menanyakan apakah orang itu menunjukkan lencana, dan tetanggaku berkata tidak. Aku tahu sekarang bahwa aku adalah target berikutnya. Lalu aku bertanya ciri-ciri orang itu dan aku mendapatkan petunjuk yang sangat bagus untuk kalian.

Dia bertangan kidal dengan kulit mulus dan berusia sekitar 25-30 tahun. Yang tidak aku mengerti menurut tetanggaku dia nampak begitu rapi dan segar bugar. Padahal aku tahu betul dia selalu bermalam di pinggir jalan dan tidak pernah meninggalkanku. Seharusnya aku mengharapkan penampilan lusuh dan kumal. Tetapi kalau tetanggaku benar, bagaimana bisa dia melakukannya?

Aku menulis ini masih sambil gemetaran. Aku akhirnya mengerti dia memang menginginkan ini. Orang itu ingin membuatku depresi berhari-hari dan sampai saatnya tiba, pilihannya hanya menyerah untuk dibunuh,

atau bunuh diri,

*****

"Kurasa ini bukan kasus yang sama," ucap Detektif Hans.

Detektif Zach menatap sesosok mayat yang bernama Miriam dengan baik-baik. Tubuhnya yang terus menggantung di sebuah tali yang terikat dengan langit-langit kamarnya sama sekali membingungkan. Dia mengamati surat yang ditulis oleh Miriam di atas meja, begitu dekat sekali dengan mayatnya.

"Kalau dia benar-benar dibunuh, mengapa si pembunuh tidak menghancurkan surat ini? Bagaimana dia juga bisa masuk sementara pintunya jelas-jelas terkunci tadi dan tidak ada jejak kaki sama sekali?" Detektif Hans masih berbicara tanpa henti.

Detektif Zach masih diam dan mengamati jendela. Apakah mungkin si pembunuh masuk lewat jendela? Dia mulai mendekati jendela dan mendapati bahwa jendela juga terkunci. Lagipula apartemen Miriam tidak memiliki balkon. Salah satu jalan masuk hanyalah dari pintu depan kalau begitu.

"It's obviously a suicide,"

Detektif Zach masih tidak mengerti mengapa partnernya begitu banyak omong, sedangkan dia merasa bahwa kasus ini bukan sekedar bunuh diri.

Detektif Zach mengamati lagi surat tersebut. Kalau memang orang ini adalah
sang pembunuh berantai yang selama ini mereka cari, cirinya benar-benar berbeda dari penyelidikan selama ini.

This is so unlike him.

Miriam sama sekali tidak dimutilasi dengan cara yang sama seperti ketujuh korban lainnya. Dan korban lainnya juga tidak meninggal di ruangan tertutup seperti ini. Tetapi kalau bukan orang itu, siapa lagi yang bisa dicurigai?

"Apakah mungkin karena dia spesial maka rancangannya berubah?"

Padahal Detektif Zach yakin bahwa orang ini adalah psikopat. Kalau dia memasukkan Miriam sebagai korban kedelapan, sulit menyimpulkan bahwa sang pembunuh adalah psikopat. Tidak ada motif lagi yang bisa dibuat hipotesa.

Lalu, siapa pembunuh Miriam dan apakah dia adalah orang yang sama dengan sang pembunuh berantai?


Dimana bukti dan petunjuk yang bisa digunakan untuk penyelidikan?

Zach, think!

Cepat berpikir atau kasus ini akan dianggap bunuh diri!

Tuesday, 30 June 2015

[Continuous] New Season (Part 5)

“Seriously, Ash?”

Aku menghela napasku dan menjawab telepon Tyler. “I can’t, Tyler, sorry,” setelah mengucapkan salam, aku langsung menutup teleponnya.

Aku mengetuk-ngetuk pulpen di tangan sambil memainkannya. Padahal banyak sekali tugasku belakangan ini, tetapi pikiranku sangat kacau. Aku terus mencoba untuk mengerjakan dan hasilnya nihil. Walaupun aku sudah memaksa otakku bekerja di depan tumpukan buku ini, aku tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.

Sampai hari ini, di hari keberangkatan Daniel, aku belum bertemu dengannya. Kejadian seminggu lalu membuatku sangat ragu untuk bertemu. Sepertinya aku telah mengecewakan Daniel pula. Lagipula, dia juga tidak mencoba untuk menghubungiku selama ini.

 No, this isn’t right.

Bodoh. Kalau hari ini aku tidak bertemu, kemungkinan aku akan bertemu dengannya akan bertahun-tahun kemudian. Aku seharusnya pergi sekarang juga. Masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum jadwal keberangkatan Daniel. Seharusnya masih banyak waktu untuk menemuinya secepat mungkin.

What is this, God?

“What are you doing here?” tanyaku, tidak percaya.

Daniel melihatku. Wajahnya begitu kurus, membuatnya sedikit berbeda darinya yang biasa kukenal. Dia tersenyum namun aku tidak membalas senyumannya.

“Seeing you,” jawabnya. Suaranya terdengar kelelahan. Aku tidak tahu apa yang selama ini terjadi kepadanya hingga membuatnya seperti sekarang. “Aku ingat hari ini kau ada kelas, kan? Aku kesini untuk melihatmu, Ashley,” jelasnya.

I’m also on my way to see you.

“Kau seharusnya sudah siap-siap berangkat ke bandara sekarang,” aku melihat jamku. Aku seolah-olah bersikap cuek walaupun tidak sanggup menahan bahagia.

Mengapa aku selalu menarik diriku sendiri setiap di depannya? Setiap kali Daniel melangkah lebih dekat, aku menarik diriku mundur lebih jauh.

“Semuanya sudah siap,” jawabnya. “Hanya perasaanku saja yang tidak,” tambahnya lagi.

“Kau harus sukses disana, Dan,” aku beralih.

“Do you feel nothing?” tanyanya.

“Of what?”

“My departure,”

“I feel happy for you, of course,” akhirnya aku tersenyum. Senyum palsu seperti waktu itu.

Daniel melihatku dan berkata, “You’re doing it again,” ucapnya.

Apa yang kulakukan?

“You’re lying, and I can see it clearly,”

“What lie?” tanyaku menutupi keterkejutanku.

Daniel melangkah semakin dekat kepadaku dan aku masih menarik diriku. Dia lalu cepat-cepat berjalan sambil menarik tanganku.

“Katakan kalau aku benar, mengapa kau selalu berbohong kepadaku?”

Aku menepis tangannya. “Aku tidak mengerti maksudmu,” jawabku.

“Hanya tinggal beberapa jam lagi sebelum aku berangkat dan kau masih akan bersikeras membohongiku?”

Bagaimana… tidak. Tidak mungkin Daniel tahu. Tetapi dari matanya, dia nampak sangat yakin kali ini. Bagaimana mungkin dia bisa benar-benar mengenaliku?

Aku mengecek jamku sekali lagi. Mengetahui semakin banyak waktu yang kuhabiskan sia-sia, aku bertambah panik. Sesuatu di dalam diriku yang saling berlawanan sedang bertengkar habis-habisan.

“Kiss me,” ucapku, jelas.

Bukan hanya Daniel, aku cukup terkejut saat menyadari apa yang baru saja aku katakan. Mungkin akhirnya aku tahu pihak mana yang menang dan berhasil mengontrol diriku. You should have no regret, Ashley.

Daniel tidak ragu lagi berjalan dan berusaha menciumku. Sebelum menutup mata, aku sangat yakin dapat melihat raut senyum di wajah Daniel meski hanya sepersekian detik. Berbeda dengan Daniel, aku merasa gugup. Aku yang memintanya, namun aku sendiri yang ragu.

Yes, you should know it now.

You did it.

Aku tidak mau membuka mataku dan kembali menghadap kenyataan. Meski Daniel sudah melepaskanku, aku tidak mau mengakui bahwa beberapa detik tadi adalah hal terhebat yang pernah kurasakan.

Bahkan aku sendiri akhirnya mengerti sudah seberapa besar perasaanku ini berkembang.

Tidak ada penyesalan, Ashley.

Disaat aku mulai mencoba berbicara, Daniel membungkamku.

“I understand it clearly,” ucapnya.

“Don’t go…” akhirnya, setelah berkali-kali suaraku tertahan untuk mengatakan hal ini.

Aku tahu, walaupun aku mengucapkannya sekarang, semua sudah terlambat. Aku hanya ingin tidak memiliki penyesalan lagi selain semua kepalsuan yang pernah kukatakan kepadanya. Ini hanya ucapan egois untuk memenuhi keinginanku saja.

“Now you say it,” dia masih tersenyum, seperti puas denganku.

Aku berjalan mendekat dan meraba sesuatu di lehernya. Daniel masih mengenakan liontin itu, dan aku membukanya. Aku tersenyum saat melihat fotoku di dalam liontin tersebut.

“Bolehkah aku minta satu hal kepadamu?”

Daniel mendengar baik-baik, “Saat debutmu nanti, bisakah kau masukkan lagu ‘One and Only’ di albummu?” pintaku.

Lagu tersebut belakangan ini kudengarkan saat aku sedang menunggu Daniel di apartemennya. Aku jarang sekali mendengar lagu-lagu Vocation, tetapi saat aku menemukannya, lagu tersebut sangat adiktif.

You’re my one and only, the first that goes lastly,

There is no goodbye for us…

 *****

Wednesday, 6 May 2015

{A Little Part of Me That You Can't Ever Reach}

You know, there is a huge amount of depression inside of me that is ready to explode. Maybe it has already been years since i knew this guy but i couldn't do anything for him.

Oh my God, you're reading it right. I just mentioned a guy. The guy that always makes my heart fluttering. The guy that whenever someone shouted his name, my heart ached. The guy that made me thump when he showed up.

J. A.

It stands for... Jin Akanishi. I never understand how can i love him so much if he's not the perfect portrait of my ideal type. I liked his songs, everything of him actually. But the thing is, i couldn't do anything from here. I would gladly bought his albums or even DVD IF THERE WAS A PRE ORDER FROM INA. I would happily registered for Jip's (his official fansclub) IF HE ALLOWED INT'L FANS TO REGISTER. OMG it's truly depressing. There was zero percent probability for him having a world tour here. Even finding his fans here is difficult.

Maybe it's because his fans tend to act calmly and individualistic. They are just like me, never had a thought of making an unofficial fan account. So... here I am. Still waiting for any miracles to happen.

Have you ever listened to his musics? His recently released album was titled Mi Amor. He even uploaded the PV. What do i think about the PV? Weird. He always used a weird concept for his comeback, but i enjoyed it. My senses are already blinded by him, so there is no reason to not loving his works. But seriously it's weird, his PV. He was going naked with laser guitar and dust everywhere. I remembered it well that there was a kiss scene there. The couples just kissed passionately, maybe it symbolized the meaning of the song. The song, Mi Amor itself is unique. Jin always came up with a brand new concept for his song WITH HIS SENSUAL VOICE ABSOLUTELY. He knows exactly his point that there is a great aura of sensualities inside of him. His body language, his expression, and also his voice are the most erotic thing that a human can produces. So eros.

His music is just like himself, exposing his sensualities and full of eros. No need any porn and just listen to my music, i think this is what he wanted to say. Eargasm, yes, he could make you feel it.

That One Last Time song told about an ambiguous situation when a couple had a fight. I don't really know if i get it wrong or right, but i feel eros by listening to it. So is Lenny J song. Lenny J told about a situation when a man interested with his GF's sister. You're such a bad boy, Jin. Why... why you always do this to me? Letting me have a wild fantasy everytime i listened to one of yours.

Maybe the only neutral song that he ever made is Ai Naru Hou e. I believed that song is made for his daughter, because it also released right after his daughter is born. I can feel his fatherly love by the lyric. You see, even though he has wild aura inside and been living a live-as-he-wanted, he is a family-oriented man. At first, I never believed seeing his interest to children and how much he said that he wanted to have a child. Now you already had it, right? She is so cute, your daughter Theia. You see, I'm happy as long as you're living happily.

Bakanishi, just look at your depressed int'l fans here. I want to be an official Jip's too, you know. Here, hold me. Because you already know it, there is no one that could hold me but you.

God, this must be weird. Whoever read it will see me odd, but who cares. They can't even have a chance to feel it the way i feel to you right now. They just don't understand. And i don't matter of what others see as long as i have you, right?


[Muse] One Last Time

#np One Last Time by Jin Akanishi

"Then tell me who the hell is Natalie??" Zoey meneriakiku persis di depanku.

"She's nobody. Mengapa kau menyebut-nyebut namanya??" nadaku mulai meninggi. Awalnya aku tidak mau bertengkar.

"Kau tidak suka? Kalau begitu mengapa kau masih berhubungan dengannya??" dia masih berteriak.

"Zoey, please, we can talk calmly, right?"

"I'm holding my anger, you know, until you confess to me," jadi teriakannya tadi masih belum luapan amarahnya?

"Apa yang harus aku bicarakan kalau aku memang tidak ada hubungan apapun dengannya? We're just talking. Mengapa kau bersikeras menuduhku selingkuh? Kau takut kalau aku selingkuh karena selama ini kau yang selingkuh, bukan??"

Zoey membelalakkan matanya.

"Siapa Nikolas?" Tanyaku.

"Astaga, Jake," dia memanggilku. "Nikolas adalah mantanku dan hubungan kami sudah benar-benar berakhir sejak lama,"

"Kami, katamu??" emosiku juga meningkat setelah terpancing olehnya.

"Jangan mengalihkan topik, kau masih belum mengakui hubunganmu dengan Natalie!!"

Aku tidak bisa menahannya lagi.

"You don't believe me?" Tanyaku.

"How can I?"

Aku sudah sangat lelah karena hubungan ini hanya berisi perkelahian dan caci maki. Walaupun sebenarnya aku tahu bahwa kami berdua saling mencintai satu sama lain, tetapi perasaan itulah yang membuat aku dan Zoey terlalu buta untuk menyadarinya.

Aku berjalan menuju kamar.

I'm packing my bags cuz' the journey is over...

  • Ya, kalau akhirnya seperti ini, aku sudah tidak peduli. Bukan karena aku memang memiliki wanita lain, tetapi tinggal dengan wanita yang sama sekali tidak mempercayaiku membuatku gila.

  • And we were never good enough for each other...

  • "Ya dia adalah selingkuhanku, we even slept together! Kau sudah puas? Ini yang kau inginkan bukan? Kau menginginkanku untuk pergi dari sini, bukan??" aku menyeret tasku sambil membanting pintu kamar.

  • You put me through hell every time that I tried...

  • Aku sudah tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan, Zoey. Meskipun aku dan Natalie hanya bohongan semata, kau membuatku begitu berharap bahwa semua itu nyata. Kau memaksaku walaupun kau tahu aku hanya mampu melihatmu di kehidupanku.

  • Mengapa mencintaimu sesusah ini? Mengapa kita tidak pernah bisa hidup dengan damai dan saling percaya satu sama lain?

  • Tonight I'm gonna make you pay one last time...

  • Aku bisa melihat matamu sekali lagi. Kau menginginkan ini. Amarah yang kau kumpulkan akhirnya bisa terluapkan begitu hebat. Kau selalu percaya pada satu hal yang membuatku tidak pernah bisa mengerti dirimu.

  • You always thought that break-up sex was the best thing in our relationship, huh?

  • You ain't gotta be shy I want the neighbors to hear it...

  • Aku selalu tahu ada hal yang aneh darimu. Tidak pernah ada wanita secantik dirimu hidup tanpa kecacatan. Kau sudah gila, Natalie, secara mental.

  • The way we used to do it in the beginning...

  • Kau mampu berbicara melalui matamu bahwa kau ingin aku menyeretmu ke dalam kamar, meluapkan semua amarah dan emosiku ke dalam gerakan. Kau selalu memintaku untuk mematikan lampu, tidak ingin menyesali apapun selagi matamu tertutup.

  • So take your time...

  • Ya, lakukan semaumu. Puaskan seluruh nafsumu karena aku tidak akan mengulangi hal ini. Sudah cukup hal bodohmu ini. Memainkan perasaanku, mendorongku ke ujung lembah tak berdasar, tetapi menarikku kembali pada akhirnya.

  • I'm waiting at the door...

  • Aku sudah tidak peduli lagi. Perkelahian ini selalu berujung pada hal yang sama. Mengapa harus melewati masa-masa genting hanya demi membangkitkan monster dalam dirimu?

  • And imma do it do it do it do it 'til you want more...

  • "Natalie was doing better than you," kau selalu memaksaku berkata hal itu agar kau bertindak lebih ganas lagi.

"She always make me to do more," aku terus mengulangi ucapan yang sama.

Kau sudah gila, Zoey. Tetapi entah mengapa aku tidak pernah bisa menyembuhkanku. Aku selalu menuruti kemauanmu hingga kegilaanmu sudah semakin akut.

"This is the last for us," ucapku.

Zoey, kau pikir aku tidak serius?

"I meant it. You will never see me after this," aku mengatur napasku. She's good actually. She is wilder than usual.

"I can't stay in this relationship anymore,"

Setelah selesai, Zoey tidak akan sanggup bangkit karena tenaganya sudah terkuras habis. Di sisi lain, aku mulai bergerak dan mengambil koperku.

"Goodbye forever, Zoey,"

Aku bisa melihat dan mendengar Zoey menangis. Dia tidak akan mungkin bisa melupakan kenangan tadi selamanya. Dan aku tidak akan pernah kembali kepadanya lagi.

Setelah kau membuatku mencicipi surga, kau selalu menarikku jatuh ke dalam neraka.

Tetapi kali ini, aku yang akan menarikmu agar kau mampu merasakannya.

Tonight I'm gonna make you pay one last time...