Spring has come.
Aku berjalan dengan payung hitam yang kubawa dari rumah. Hujan deras sekali dan berangin. Benar-benar pagi yang buruk untuk memulai hari baru.
My spring has come.
Seseorang berjalan di depanku menghiraukan air hujan yang terus membasahi seragamnya. Dia memeluk diri sendiri karena kedinginan. Kepalanya tertunduk karena air dan angin menghalangi pandangannya.
Now I wonder, how about your spring?
"Bad day, huh?" Aku berbagi payungku dengannya, gadis itu. Dia memandangiku. Wajah yang sama sekali tidak kukenal. Hanya seragamnya yang bisa kuketahui. Setidaknya aku tahu tujuan kami pasti sama.
Dia tersenyum lirih. Aku yakin dia berkata terima kasih namun suaranya terhalang oleh derasnya hujan dan deruman mobil di jalanan.
Bulan ini sudah memasuki musim semi, namun mengapa hujan deras merusak musim yang indah ini?
Aku dan gadis itu berpisah di sebuah koridor. Baju gadis itu sudah terlanjur basah. Tasnya juga tidak tahan air dan aku yakin seluruh isinya kebasahan.
"Hei," panggilku saat dia baru beberapa langkah pergi. "Pakai ini," aku melempar baju olahragaku. Hari ini hujan deras, tidak mungkin di pelajaran olahraga nanti aku masih harus bersalin. "Kalau kau sudah selesai pakai, tidak usah dicuci, kembalikan saja ke kelas 11-2,"
"Ah, namaku Karl, kalau kau mau tahu," ucapku sambil pergi meninggalkannya lebih dahulu.
Esok hari, gadis itu berdiri di depan pintu kelasku dan menyerahkan seragam olahragaku. Tentu saja dia sudah mencucinya walaupun aku berkata tidak usah. Wangi deterjen dan pewanginya melekat di seragamku. Aku berterima kasih sudah mengembalikan milikku.
"Hei," aku memanggilnya yang melangkah pergi. "Kau belum memberitahu nama dan kelasmu," ucapku. Bukannya aku sangat memaksa, namun aneh saja kalau nanti kami bertemu dan tidak tahu namanya.
Dia hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Aku hanya berpikir mungkin ini akan menjadi kali terakhir kami bertemu sehingga dia tidak merasa perlu memberitahu namanya.
And that's how I finally met my own spring...
******
Senyumanku merekah lebar.
Senyumanku merekah lebar.
Aku bertemu dengannya lagi di sebuah halte bus. Karena harus mengerjakan beberapa persiapan untuk acara tahunan, aku sengaja berangkat pagi dari biasanya. Rupanya gadis itu juga menaiki bus yang sama sepertiku.
Pagi itu, aku merasa matahari sudah terbit dengan cerahnya meski langit begitu gelap.
Dia melihatku di balik kerumunan orang yang menunggu. Mungkin dia menyadari sedang diperhatikan. Saat mata kami bertemu, dia hanya tersenyum sebentar. Setelah itu, dia menundukkan kepalanya sedikit dan kembali fokus ke jalanan.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Selang beberapa menit, bus kami datang. Aku duduk di paling belakang sedangkan dia berada di depan. Meski tahu bahwa ada aku, dia tidak berusaha menyapa sama sekali.
Kami turun di halte yang sama dan berjalan ke arah yang sama. Karena masih sangat pagi, jalanan masih begitu sepi. Aku bertanya-tanya apakah dia juga menjadi panitia acara, tetapi kalau iya tidak mungkin aku tidak menyadari keberadaannya selama ini.
Saat sudah memasuki area sekolah, aku ingin sekali mencari tahu letak kelasnya. Namun hanya ada kami berdua dan dia berjalan ke arah yang berbeda dengan kelasku, sehingga aku mengurungkan niat. Aku tidak mau dianggap seperti stalker nantinya.
Tugasku hari ini banyak sekali. Saat waktu istirahat tiba, aku langsung menyambar kantin untuk membeli makan siang dan lanjut ke kelas. Aku cukup terkejut saat melihat ada gadis itu lagi di depan kelasku. Dia sedang berbicara dengan salah satu teman sekelasku. Dari caranya memandang, dia nampak menikmati pembicaraan mereka.
Mengapa dia berada di depan kelasku? Mengapa dia berbicara dengan temanku dengan santainya? Apa yang dia lakukan tadi? Mengapa dia nampak tidak terganggu dengan keberadaanku?
Meski aku mencoba menahan diri untuk tidak memperhatikan lebih lama lagi, makan siangku terasa tidak fokus. Berbagai pertanyaan di dalam pikiranku memaksa untuk dijawab. Saat temanku, Walter sudah kembali ke tempatnya, aku masih tidak berani bertanya perihal gadis itu,
"Siapa tadi?" tanya salah satu temannya yang ikut memperhatikan mereka.
Walter hanya tersenyum. Dia tidak berbicara banyak dan hanya mengambil beberapa buku lalu kembali pergi keluar. Sialan, dia meninggalkan sebuah bias. Kini seluruh temannya menganggap kalau gadis itu adalah pacar Walter.
Her hidden smile that she showed was punctured deeply inside me.
One thing for sure,
I still didn't know her name till now.