Friday, 7 August 2015

[Prologue] Redemption

"If you could describe him in 3 words, what would they be?"

"Unexpectedly luscious person.

Kau selalu tahu bagaimana aku melihat orang lain bagaikan sebuah boneka kapas. Mereka semua tidak pernah membangkitkan nafsuku, sampai akhirnya aku bertemu dengannya.

Kau tahu apa yang selalu kubayangkan setiap kali melihatnya?

Kematian.

Oh, sebuah akhir yang indah, seperti perpisahan dan air mata. Aku selalu penasaran bagaimana kalau belati menusuk tepat ke jantungnya.

Aku sangat tidak sabar melihatnya memejamkan mata sedangkan aku adalah orang terakhir yang dilihatnya. Dan dia memegang tanganku selagi aku terus memegang belati tersebut dan merasakan darah mulai mengucur dan membasahi tanganku.

So... irresistible."

*****

"If you could describe her in 3 words, what would they be?"

"Unconsciously Fragile Woman.

Aku selalu tahu ada yang salah darinya. Dia sama sekali berbeda dengan perempuan lain yang pernah kutemui. Sorot matanya yang tidak pernah nampak ragu bagaikan seorang sociopath, bahkan tingkah dan cara berpikirnya juga mirip psikopat. Semua orang pasti akan menganggapnya aneh.

Tetapi aku melihatnya sebagai seorang gadis yang rapuh. Dia butuh perhatian dan seseorang di sampingnya.

Aku bersedia.

Even if it takes my life as a bet."

*****

"Whitney, bangun,"

"Whitney, ini bukan dirimu,"

"Whitney,"

"Whitney,"

"Whit-,"

Dan suara itu menghilang. Sesaat kemudian aku mulai melupakan suara itu. Suara pria yang seharusnya kukenali dengan baik, namun aku malah mengabaikannya.

"Whitney," suara itu kembali, beserta sebuah pelukan.

Berbeda dengan sebelumnya, kini mataku dapat melihat bahwa aku sedang berjalan entah kemana tanpa mengenakan alas kaki sama sekali. Awalnya semua ini hanya alas putih, dan rupanya aku sudah terbangun lagi.

Dengan sebuah pisau dapur yang dipenuhi oleh darah.

Darah siapa ini? Apakah ini milik Mike? Tidak, dia tampak begitu sehat dan mengkhawatirkanku. Aku mendekatkan pisau itu ke bagian perutnya, berusaha mengelap bekas darah yang menempel di mata pisau.

Dan keinginan itu muncul kembali. Aku sangat menyukai pria ini sampai pada tahap bahwa aku menginginkan dia mendapatkan kebahagian yang hakiki.

Mereka bilang kematian hanyalah salah satu bentuk terlelap tidur dalam jangka lama. Kau akan mendapatkan ketenangan disana, sayang.

Dan, entah diantara sekian banyaknya keinginanku untuk membuatnya beristirahat dengan tenang, aku tidak bisa.

"Whitney, aku mencarimu dari tadi!"

Tubuhnya kini sedikit menjauh. Dia nampak cemas dan terlihat sekali dari sorot matanya. Hngg? Keinginan itu tiba-tiba menghilang. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku sempat berpikiran hal itu.

Mike mengambil pisau tersebut dari tanganku. "Darah siapa ini, Whitney?"

Mataku menatapnya, kosong. Melihatnya membuatku bertanya-tanya apa yang sedang ia pikirkan.

Sebelum aku mengucapkan sebuah nama, aku tersenyum. Tidak seharusnya Mike nampak panik seperti itu. Semuanya baik-baik saja.

Ia sudah pergi dengan bahagia, tentu saja.

-tbc-

Thursday, 30 July 2015

[One Shot] The Unsolved Case of Miriam Kohl

I think i've been followed by someone recently.

Kalau kau tidak mempercayainya, setidaknya tolong aku. Aku menulis surat ini sambil menahan tremor di seluruh badanku. Kau bahkan pasti bisa melihatnya dari tulisan tanganku yang penuh getaran.

Entah sejak kapan tetapi aku baru menyadarinya sekitar 3 hari yang lalu. Orang itu-seorang pria bermantel cokelat dan topi fedora usang dengan tinggi sekitar 180cm dan tubuh jangkung- selalu ada dimanapun aku pergi. Dia bahkan bermalam di seberang jalan rumahku setiap hari. Yang kutahu, aku selalu bisa menemukannya di kerumunan orang seolah dia begitu ingin diketahui.

Mungkin ini karena sebuah kasus pembunuhan berantai yang sempat menarik perhatianku dari data rahasia kepolisian?

Aku sempat mencoba memecahkan kasus tersebut sendirian-ya, pada saat itu aku sama sekali tidak memikirkan resikonya. Mengapa aku tidak bisa menyadari bahwa seluruh korbannya memiliki ciri yang sama sepertiku, rambut brunette dan bertubuh pendek?

Tetapi aku sepertinya belum sampai tahap mengetahui identitas sang pembunuh, lalu bagaimana bisa dia menentukan aku sebagai targetnya sebelumnya?

Kalau kau akhirnya menemukanku dengan tubuh terpisah menjadi 8 bagian dengan presisi potongan yang begitu sempurna, maka pembunuhku adalah orang yang sama dengan yang kalian cari pada kasus DD42.

Aku masih belum bisa mengetahui tujuan orang itu terus mengikutiku. Apakah dia hanya berusaha mengancamku tanpa berniat menyentuhku sama sekali, atau dia hanya sedang mencari waktu dan lokasi yang pas?

Salah seorang tetanggaku memberitahu bahwa ada seseorang yang menanyakan tentangku seolah-olah mereka polisi, tetapi aku tahu dia tidak berbicara dengan polisi. Aku menanyakan apakah orang itu menunjukkan lencana, dan tetanggaku berkata tidak. Aku tahu sekarang bahwa aku adalah target berikutnya. Lalu aku bertanya ciri-ciri orang itu dan aku mendapatkan petunjuk yang sangat bagus untuk kalian.

Dia bertangan kidal dengan kulit mulus dan berusia sekitar 25-30 tahun. Yang tidak aku mengerti menurut tetanggaku dia nampak begitu rapi dan segar bugar. Padahal aku tahu betul dia selalu bermalam di pinggir jalan dan tidak pernah meninggalkanku. Seharusnya aku mengharapkan penampilan lusuh dan kumal. Tetapi kalau tetanggaku benar, bagaimana bisa dia melakukannya?

Aku menulis ini masih sambil gemetaran. Aku akhirnya mengerti dia memang menginginkan ini. Orang itu ingin membuatku depresi berhari-hari dan sampai saatnya tiba, pilihannya hanya menyerah untuk dibunuh,

atau bunuh diri,

*****

"Kurasa ini bukan kasus yang sama," ucap Detektif Hans.

Detektif Zach menatap sesosok mayat yang bernama Miriam dengan baik-baik. Tubuhnya yang terus menggantung di sebuah tali yang terikat dengan langit-langit kamarnya sama sekali membingungkan. Dia mengamati surat yang ditulis oleh Miriam di atas meja, begitu dekat sekali dengan mayatnya.

"Kalau dia benar-benar dibunuh, mengapa si pembunuh tidak menghancurkan surat ini? Bagaimana dia juga bisa masuk sementara pintunya jelas-jelas terkunci tadi dan tidak ada jejak kaki sama sekali?" Detektif Hans masih berbicara tanpa henti.

Detektif Zach masih diam dan mengamati jendela. Apakah mungkin si pembunuh masuk lewat jendela? Dia mulai mendekati jendela dan mendapati bahwa jendela juga terkunci. Lagipula apartemen Miriam tidak memiliki balkon. Salah satu jalan masuk hanyalah dari pintu depan kalau begitu.

"It's obviously a suicide,"

Detektif Zach masih tidak mengerti mengapa partnernya begitu banyak omong, sedangkan dia merasa bahwa kasus ini bukan sekedar bunuh diri.

Detektif Zach mengamati lagi surat tersebut. Kalau memang orang ini adalah
sang pembunuh berantai yang selama ini mereka cari, cirinya benar-benar berbeda dari penyelidikan selama ini.

This is so unlike him.

Miriam sama sekali tidak dimutilasi dengan cara yang sama seperti ketujuh korban lainnya. Dan korban lainnya juga tidak meninggal di ruangan tertutup seperti ini. Tetapi kalau bukan orang itu, siapa lagi yang bisa dicurigai?

"Apakah mungkin karena dia spesial maka rancangannya berubah?"

Padahal Detektif Zach yakin bahwa orang ini adalah psikopat. Kalau dia memasukkan Miriam sebagai korban kedelapan, sulit menyimpulkan bahwa sang pembunuh adalah psikopat. Tidak ada motif lagi yang bisa dibuat hipotesa.

Lalu, siapa pembunuh Miriam dan apakah dia adalah orang yang sama dengan sang pembunuh berantai?


Dimana bukti dan petunjuk yang bisa digunakan untuk penyelidikan?

Zach, think!

Cepat berpikir atau kasus ini akan dianggap bunuh diri!

Tuesday, 30 June 2015

[Continuous] New Season (Part 5)

“Seriously, Ash?”

Aku menghela napasku dan menjawab telepon Tyler. “I can’t, Tyler, sorry,” setelah mengucapkan salam, aku langsung menutup teleponnya.

Aku mengetuk-ngetuk pulpen di tangan sambil memainkannya. Padahal banyak sekali tugasku belakangan ini, tetapi pikiranku sangat kacau. Aku terus mencoba untuk mengerjakan dan hasilnya nihil. Walaupun aku sudah memaksa otakku bekerja di depan tumpukan buku ini, aku tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.

Sampai hari ini, di hari keberangkatan Daniel, aku belum bertemu dengannya. Kejadian seminggu lalu membuatku sangat ragu untuk bertemu. Sepertinya aku telah mengecewakan Daniel pula. Lagipula, dia juga tidak mencoba untuk menghubungiku selama ini.

 No, this isn’t right.

Bodoh. Kalau hari ini aku tidak bertemu, kemungkinan aku akan bertemu dengannya akan bertahun-tahun kemudian. Aku seharusnya pergi sekarang juga. Masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum jadwal keberangkatan Daniel. Seharusnya masih banyak waktu untuk menemuinya secepat mungkin.

What is this, God?

“What are you doing here?” tanyaku, tidak percaya.

Daniel melihatku. Wajahnya begitu kurus, membuatnya sedikit berbeda darinya yang biasa kukenal. Dia tersenyum namun aku tidak membalas senyumannya.

“Seeing you,” jawabnya. Suaranya terdengar kelelahan. Aku tidak tahu apa yang selama ini terjadi kepadanya hingga membuatnya seperti sekarang. “Aku ingat hari ini kau ada kelas, kan? Aku kesini untuk melihatmu, Ashley,” jelasnya.

I’m also on my way to see you.

“Kau seharusnya sudah siap-siap berangkat ke bandara sekarang,” aku melihat jamku. Aku seolah-olah bersikap cuek walaupun tidak sanggup menahan bahagia.

Mengapa aku selalu menarik diriku sendiri setiap di depannya? Setiap kali Daniel melangkah lebih dekat, aku menarik diriku mundur lebih jauh.

“Semuanya sudah siap,” jawabnya. “Hanya perasaanku saja yang tidak,” tambahnya lagi.

“Kau harus sukses disana, Dan,” aku beralih.

“Do you feel nothing?” tanyanya.

“Of what?”

“My departure,”

“I feel happy for you, of course,” akhirnya aku tersenyum. Senyum palsu seperti waktu itu.

Daniel melihatku dan berkata, “You’re doing it again,” ucapnya.

Apa yang kulakukan?

“You’re lying, and I can see it clearly,”

“What lie?” tanyaku menutupi keterkejutanku.

Daniel melangkah semakin dekat kepadaku dan aku masih menarik diriku. Dia lalu cepat-cepat berjalan sambil menarik tanganku.

“Katakan kalau aku benar, mengapa kau selalu berbohong kepadaku?”

Aku menepis tangannya. “Aku tidak mengerti maksudmu,” jawabku.

“Hanya tinggal beberapa jam lagi sebelum aku berangkat dan kau masih akan bersikeras membohongiku?”

Bagaimana… tidak. Tidak mungkin Daniel tahu. Tetapi dari matanya, dia nampak sangat yakin kali ini. Bagaimana mungkin dia bisa benar-benar mengenaliku?

Aku mengecek jamku sekali lagi. Mengetahui semakin banyak waktu yang kuhabiskan sia-sia, aku bertambah panik. Sesuatu di dalam diriku yang saling berlawanan sedang bertengkar habis-habisan.

“Kiss me,” ucapku, jelas.

Bukan hanya Daniel, aku cukup terkejut saat menyadari apa yang baru saja aku katakan. Mungkin akhirnya aku tahu pihak mana yang menang dan berhasil mengontrol diriku. You should have no regret, Ashley.

Daniel tidak ragu lagi berjalan dan berusaha menciumku. Sebelum menutup mata, aku sangat yakin dapat melihat raut senyum di wajah Daniel meski hanya sepersekian detik. Berbeda dengan Daniel, aku merasa gugup. Aku yang memintanya, namun aku sendiri yang ragu.

Yes, you should know it now.

You did it.

Aku tidak mau membuka mataku dan kembali menghadap kenyataan. Meski Daniel sudah melepaskanku, aku tidak mau mengakui bahwa beberapa detik tadi adalah hal terhebat yang pernah kurasakan.

Bahkan aku sendiri akhirnya mengerti sudah seberapa besar perasaanku ini berkembang.

Tidak ada penyesalan, Ashley.

Disaat aku mulai mencoba berbicara, Daniel membungkamku.

“I understand it clearly,” ucapnya.

“Don’t go…” akhirnya, setelah berkali-kali suaraku tertahan untuk mengatakan hal ini.

Aku tahu, walaupun aku mengucapkannya sekarang, semua sudah terlambat. Aku hanya ingin tidak memiliki penyesalan lagi selain semua kepalsuan yang pernah kukatakan kepadanya. Ini hanya ucapan egois untuk memenuhi keinginanku saja.

“Now you say it,” dia masih tersenyum, seperti puas denganku.

Aku berjalan mendekat dan meraba sesuatu di lehernya. Daniel masih mengenakan liontin itu, dan aku membukanya. Aku tersenyum saat melihat fotoku di dalam liontin tersebut.

“Bolehkah aku minta satu hal kepadamu?”

Daniel mendengar baik-baik, “Saat debutmu nanti, bisakah kau masukkan lagu ‘One and Only’ di albummu?” pintaku.

Lagu tersebut belakangan ini kudengarkan saat aku sedang menunggu Daniel di apartemennya. Aku jarang sekali mendengar lagu-lagu Vocation, tetapi saat aku menemukannya, lagu tersebut sangat adiktif.

You’re my one and only, the first that goes lastly,

There is no goodbye for us…

 *****

Wednesday, 6 May 2015

{A Little Part of Me That You Can't Ever Reach}

You know, there is a huge amount of depression inside of me that is ready to explode. Maybe it has already been years since i knew this guy but i couldn't do anything for him.

Oh my God, you're reading it right. I just mentioned a guy. The guy that always makes my heart fluttering. The guy that whenever someone shouted his name, my heart ached. The guy that made me thump when he showed up.

J. A.

It stands for... Jin Akanishi. I never understand how can i love him so much if he's not the perfect portrait of my ideal type. I liked his songs, everything of him actually. But the thing is, i couldn't do anything from here. I would gladly bought his albums or even DVD IF THERE WAS A PRE ORDER FROM INA. I would happily registered for Jip's (his official fansclub) IF HE ALLOWED INT'L FANS TO REGISTER. OMG it's truly depressing. There was zero percent probability for him having a world tour here. Even finding his fans here is difficult.

Maybe it's because his fans tend to act calmly and individualistic. They are just like me, never had a thought of making an unofficial fan account. So... here I am. Still waiting for any miracles to happen.

Have you ever listened to his musics? His recently released album was titled Mi Amor. He even uploaded the PV. What do i think about the PV? Weird. He always used a weird concept for his comeback, but i enjoyed it. My senses are already blinded by him, so there is no reason to not loving his works. But seriously it's weird, his PV. He was going naked with laser guitar and dust everywhere. I remembered it well that there was a kiss scene there. The couples just kissed passionately, maybe it symbolized the meaning of the song. The song, Mi Amor itself is unique. Jin always came up with a brand new concept for his song WITH HIS SENSUAL VOICE ABSOLUTELY. He knows exactly his point that there is a great aura of sensualities inside of him. His body language, his expression, and also his voice are the most erotic thing that a human can produces. So eros.

His music is just like himself, exposing his sensualities and full of eros. No need any porn and just listen to my music, i think this is what he wanted to say. Eargasm, yes, he could make you feel it.

That One Last Time song told about an ambiguous situation when a couple had a fight. I don't really know if i get it wrong or right, but i feel eros by listening to it. So is Lenny J song. Lenny J told about a situation when a man interested with his GF's sister. You're such a bad boy, Jin. Why... why you always do this to me? Letting me have a wild fantasy everytime i listened to one of yours.

Maybe the only neutral song that he ever made is Ai Naru Hou e. I believed that song is made for his daughter, because it also released right after his daughter is born. I can feel his fatherly love by the lyric. You see, even though he has wild aura inside and been living a live-as-he-wanted, he is a family-oriented man. At first, I never believed seeing his interest to children and how much he said that he wanted to have a child. Now you already had it, right? She is so cute, your daughter Theia. You see, I'm happy as long as you're living happily.

Bakanishi, just look at your depressed int'l fans here. I want to be an official Jip's too, you know. Here, hold me. Because you already know it, there is no one that could hold me but you.

God, this must be weird. Whoever read it will see me odd, but who cares. They can't even have a chance to feel it the way i feel to you right now. They just don't understand. And i don't matter of what others see as long as i have you, right?


[Muse] One Last Time

#np One Last Time by Jin Akanishi

"Then tell me who the hell is Natalie??" Zoey meneriakiku persis di depanku.

"She's nobody. Mengapa kau menyebut-nyebut namanya??" nadaku mulai meninggi. Awalnya aku tidak mau bertengkar.

"Kau tidak suka? Kalau begitu mengapa kau masih berhubungan dengannya??" dia masih berteriak.

"Zoey, please, we can talk calmly, right?"

"I'm holding my anger, you know, until you confess to me," jadi teriakannya tadi masih belum luapan amarahnya?

"Apa yang harus aku bicarakan kalau aku memang tidak ada hubungan apapun dengannya? We're just talking. Mengapa kau bersikeras menuduhku selingkuh? Kau takut kalau aku selingkuh karena selama ini kau yang selingkuh, bukan??"

Zoey membelalakkan matanya.

"Siapa Nikolas?" Tanyaku.

"Astaga, Jake," dia memanggilku. "Nikolas adalah mantanku dan hubungan kami sudah benar-benar berakhir sejak lama,"

"Kami, katamu??" emosiku juga meningkat setelah terpancing olehnya.

"Jangan mengalihkan topik, kau masih belum mengakui hubunganmu dengan Natalie!!"

Aku tidak bisa menahannya lagi.

"You don't believe me?" Tanyaku.

"How can I?"

Aku sudah sangat lelah karena hubungan ini hanya berisi perkelahian dan caci maki. Walaupun sebenarnya aku tahu bahwa kami berdua saling mencintai satu sama lain, tetapi perasaan itulah yang membuat aku dan Zoey terlalu buta untuk menyadarinya.

Aku berjalan menuju kamar.

I'm packing my bags cuz' the journey is over...

  • Ya, kalau akhirnya seperti ini, aku sudah tidak peduli. Bukan karena aku memang memiliki wanita lain, tetapi tinggal dengan wanita yang sama sekali tidak mempercayaiku membuatku gila.

  • And we were never good enough for each other...

  • "Ya dia adalah selingkuhanku, we even slept together! Kau sudah puas? Ini yang kau inginkan bukan? Kau menginginkanku untuk pergi dari sini, bukan??" aku menyeret tasku sambil membanting pintu kamar.

  • You put me through hell every time that I tried...

  • Aku sudah tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan, Zoey. Meskipun aku dan Natalie hanya bohongan semata, kau membuatku begitu berharap bahwa semua itu nyata. Kau memaksaku walaupun kau tahu aku hanya mampu melihatmu di kehidupanku.

  • Mengapa mencintaimu sesusah ini? Mengapa kita tidak pernah bisa hidup dengan damai dan saling percaya satu sama lain?

  • Tonight I'm gonna make you pay one last time...

  • Aku bisa melihat matamu sekali lagi. Kau menginginkan ini. Amarah yang kau kumpulkan akhirnya bisa terluapkan begitu hebat. Kau selalu percaya pada satu hal yang membuatku tidak pernah bisa mengerti dirimu.

  • You always thought that break-up sex was the best thing in our relationship, huh?

  • You ain't gotta be shy I want the neighbors to hear it...

  • Aku selalu tahu ada hal yang aneh darimu. Tidak pernah ada wanita secantik dirimu hidup tanpa kecacatan. Kau sudah gila, Natalie, secara mental.

  • The way we used to do it in the beginning...

  • Kau mampu berbicara melalui matamu bahwa kau ingin aku menyeretmu ke dalam kamar, meluapkan semua amarah dan emosiku ke dalam gerakan. Kau selalu memintaku untuk mematikan lampu, tidak ingin menyesali apapun selagi matamu tertutup.

  • So take your time...

  • Ya, lakukan semaumu. Puaskan seluruh nafsumu karena aku tidak akan mengulangi hal ini. Sudah cukup hal bodohmu ini. Memainkan perasaanku, mendorongku ke ujung lembah tak berdasar, tetapi menarikku kembali pada akhirnya.

  • I'm waiting at the door...

  • Aku sudah tidak peduli lagi. Perkelahian ini selalu berujung pada hal yang sama. Mengapa harus melewati masa-masa genting hanya demi membangkitkan monster dalam dirimu?

  • And imma do it do it do it do it 'til you want more...

  • "Natalie was doing better than you," kau selalu memaksaku berkata hal itu agar kau bertindak lebih ganas lagi.

"She always make me to do more," aku terus mengulangi ucapan yang sama.

Kau sudah gila, Zoey. Tetapi entah mengapa aku tidak pernah bisa menyembuhkanku. Aku selalu menuruti kemauanmu hingga kegilaanmu sudah semakin akut.

"This is the last for us," ucapku.

Zoey, kau pikir aku tidak serius?

"I meant it. You will never see me after this," aku mengatur napasku. She's good actually. She is wilder than usual.

"I can't stay in this relationship anymore,"

Setelah selesai, Zoey tidak akan sanggup bangkit karena tenaganya sudah terkuras habis. Di sisi lain, aku mulai bergerak dan mengambil koperku.

"Goodbye forever, Zoey,"

Aku bisa melihat dan mendengar Zoey menangis. Dia tidak akan mungkin bisa melupakan kenangan tadi selamanya. Dan aku tidak akan pernah kembali kepadanya lagi.

Setelah kau membuatku mencicipi surga, kau selalu menarikku jatuh ke dalam neraka.

Tetapi kali ini, aku yang akan menarikmu agar kau mampu merasakannya.

Tonight I'm gonna make you pay one last time...


[Muse] S.T.A.L.K.E.R

#np Stalker - Hyorin (ft. Madclown)


Aku hanya duduk dan melihat layar ponselku.

난 너를 원해
Aku menginginkanmu,

Satu notifikasi mengenai dirimu.


너만 원해 

Aku hanya menginginkanmu,

You're just engaged to a woman. Aku memperhatikan fotomu satu persatu yang menunjukkan betapa bahagianya harimu belakangan ini.


니가 미워도 
Walaupun aku membencimu,

Kau pasti benar-benar mencintai wanita ini, ya, Nate ?

가슴속에 
Di dalam hatimu,

Berkali-kali aku mencoba untuk melupakanmu sebagaimana kau telah melupakanku, namun hasilnya tetap sama.


기억 속에

Di dalam memorimu,

Sampai kapan aku hanya bisa melihat kebahagiaanmu dari kejauhan seperti ini ?


I wanna be your only love 

Aku hanya ingin menjadi satu-satunya yang kau cintai,

Nathaniel Moyers.


솔직히 말해  너만 원해 

Jujur saja aku hanya menginginkanmu,

Aku mengucapkan namamu di dalam hati dan perasaan itu muncul kembali.


눈물이 나도 

Walaupun airmata ini muncul,

Ya, airmata ini mengalir deras saat memanggil namamu. Berkali-kali kucoba untuk memanggilmu, kau tidak akan pernah datang ke hadapanku.


어쩔 수 없어

Aku tidak bisa menahannya,

Nate, beritahu aku bagaimana bisa menghapus perasaan ini, air mata ini.


없어

Tidak bisa,

I’m feeling like I stalk and love...



*****

[Muse] The Day Will Come, Dear

#np Propose by Noel


Aku menarik kencang dasi dan merapikan penampilanku sekali lagi. Pikiranku kosong sejenak dan terserang panik luar biasa.

Keep calm...

Untuk mengabaikan kekacauanku, aku memandangi langit di musim semi. Mengapa cuaca hari ini begitu cerah namun sejuk? Apakah aku memilih waktu yang sangat tepat untuk hari yang sangat penting seumur hidupku ini?

Mungkin setelah aku memandangi jam tanganku lebih dari 3 kali, seseorang menghampiriku. Gadis dengan one piece dress biru muda dan rambutnya yang tergerai lurus ini berbicara kepadaku,

"Apakah kau sudah menunggu lama?"

Aku menggeleng. Aku menunggunya hanya karena aku datang jauh lebih cepat dari janji. Tiba-tiba saja setelah melihatnya yang nampak jauh lebih cantik dari yang biasa kulihat, aku kembali panik. Sesuatu terasa mencekik leherku, sehingga aku merenggangkan kembali dasi yang kukenakan.

"Mengapa kau rapi sekali hari ini?"

Aku memperhatikan diriku sendiri.

Apakah rencanaku sudah dapat ditebak? Apakah kali ini aku sedikit over dressed? Apakah seharusnya aku mengganti pakaian terlebih dahulu dengan yang lebih casual daripada tuxedo ini?

"Nanti malam aku ada meeting penting. Jadi kupikir aku tidak perlu pulang dahulu dan ganti baju lagi,"

Gadis itu tersenyum dan nampak sedikit tertawa.

"Sebuah tuxedo untuk undangan pernikahan bertema garden party... Hmm..."

"Sydney," aku memanggil nama indahnya. "Apakah aku terlalu berlebihan?" Tanyaku.

"No, it's really fine," jawabnya dengan senyuman lebar miliknya yang sangat khas. Saat melihatnya, aku begitu ingin menyimpan senyuman itu selamanya.

Hari ini salah satu teman lamaku dan juga Sydney menikah. Karena aku sudah mengenal teman ini lebih dari 15 tahun, aku merasa sangat perlu untuk bertemu dengannya. Sydney juga tidak sabar untuk melihat teman-teman sesama alumni sekolah dasar kami di acara pernikahannya.

Sesaat setelah berada di lokasi resepsi, Sydney langsung menghampiri teman-teman wanitanya. Tidak lama, aku juga bisa melihat teman-temanku dahulu. Mereka semua sedang mendiskusikan sesuatu.

Mereka semua membawa pasangan masing-masing, dan aku merasa asing sendirian.

"Jadi, kapan kau akan menikah?" Pertanyaan yang terlalu awam sekali.

Kali ini, aku menjawab dalam senyum, "Hari ini, aku akan melamarnya,"

Mereka semua berkata bahwa pantas saja pakaianku terlalu berlebihan hari ini. Pada saat aku menjawab pertanyaan siapakah yang akan kulamar, mereka sama-sama terkejut.

"Sydney? Kau serius?" Tanya mereka.

Aku tidak kebingan dengan reaksi mereka. Karena sebenarnya, Sydney dan aku tidak memiliki hubungan khusus apapun kecuali sahabat sejak kecil. Aku memang sudah menyukainya sejak dahulu, dan semua orang selalu berkata bahwa Sydney juga menyukaiku. Meskipun begitu, aku tidak pernah membawa hubungan kami selangkah lebih maju selain sekedar sahabat.

Mereka bilang aku cukup nekat untuk langsung melamarnya begitu saja.

Tetapi, kemungkinan itu memang ada. Kalau memikirkan peluang dia akan menerimaku, aku cukup percaya diri walaupun  aku bertaruh besar dengan kemustahilan.

We're at the golden ages for getting married.