Aku, Kak Aubrey, Tyler, dan Daniel sudah bersahabat sejak kecil. Kakakku Aubrey dan Daniel adalah teman sebaya dan selalu satu kelas di sekolah. Tyler sendiri adalah tetanggaku yang lebih tua sekitar 3 tahun dengan Kak Aubrey. Aku adalah yang paling muda dari geng ini.
Sejak awal, aku benar-benar menyukai Tyler. Sosoknya yang dewasa dan benar-benar perhatian denganku adalah penyebab utamanya. Tyler adalah tipikal laki-laki yang aktif dan begitu tergila-gila dengan olahraga basket. Memang hampir setiap hari kami semua bermain baket bersama. Aku hanya duduk di luar lapangan dan melihat Kak Aubrey, Tyler, Daniel, dan beberapa kawanan Tyler lain bermain bersama. Dari kejauhan, aku selalu memandang kagum permainan Tyler. Aku sangat yakin suatu saat dia akan menjadi pebasket yang profesional.
Cukup berbeda dengan Tyler, Daniel adalah tipikal laki-laki dengan pemikiran bebas. Dia sangat menyukai musik dan hidupnya urakan. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana dia dewasa kelak, seorang rocker dengan penampilan serba gothic atau emo tanpa pekerjaan tetap. Aku tidak memandang rendah Daniel karena aku juga mengagumi cara berpikirnya yang seakan tanpa beban. Aku hanya tidak bisa memastikan masa depannya akan berakhir seperti apa kelak.
Sedangkan Kak Aubrey... Ah... Kakakku...
Menjadi anak bungsu dan memiliki kakak perempuan yang cantik dan pintar adalah kesialanku. Tentu saja aku selalu akan dibandingkan dengannya, dan dari sisi manapun, Kak Aubrey adalah yang terbaik. Dia lebih menonjol di bidang akademik, dan mimpinya sebagai guru memang pas sekali untuknya. Aku yakin dia bisa mewujudkan mimpinya itu.
"Ashley," Tyler memanggilku saat aku mulai melamun dan memikirkan hal lain.
Dia mengajakku untuk masuk ke dalam lapangan. "She's my cute little sister," dia memperkenalkanku kepada teman-temannya. Wow, sister, katanya.
Kak Aubrey hanya tersenyum-senyum saat aku bersalaman dengan teman-teman Tyler dan langsung berkata, "Dia mirip denganku, bukan?" dia berusaha meluruskan bahwa aku adalah adiknya.
Sejak kecil aku jarang tersenyum meskipun Tyler berkata aku sangat cantik saat tersenyum. Karena itulah aku hanya menunjukkan senyumku kepadanya, bukan ke orang lain. Terlebih lagi, aku senang bermanja-manja dengannya, sementara dia hanya menepuk-nepuk kepalaku seperti his puppy, Cornie.
Kali ini aku cukup terkejut saat Tyler berkata bahwa aku adalah adiknya. Hal itu seolah-olah menjelaskan bahwa aku tidak lain dianggap sebagai adiknya. Hanya sebatas itu. Well, aku sebenarnya juga tidak mengharapkan lebih, tetapi kenyataan itu membuatku terpukul.
Mungkin sejak itu seharusnya aku sudah belajar untuk merelakan Tyler selama-lamanya...
*****
